PERTUMBUHAN MALEO (MACROCEPHALON MALEO) UMUR 7-12 BULAN DALAM KANDANG PENANGKARAN EX-SITU PT.PANCA AMARA UTAMA,KECAMATAN BATUI,KABUPATEN BANGGAI

MUNAMAD ALI (2019) PERTUMBUHAN MALEO (MACROCEPHALON MALEO) UMUR 7-12 BULAN DALAM KANDANG PENANGKARAN EX-SITU PT.PANCA AMARA UTAMA,KECAMATAN BATUI,KABUPATEN BANGGAI. Undergraduate Theses thesis, Universitas Tadulako.

Full text not available from this repository.

Abstract

PERTUMBUHAN MALEO (Macrocephalon Maleo) UMUR 7-12 BULAN DALAM KANDANG PENANGKARAN EX-SITU PT. PANCA AMARA UTAMA, KECAMATAN BATUI, KABUPATEN BANGGAI SKRIPSI MUHAMAD ALI PROGRAM STUDI PETERNAKAN JURUSAN PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN DAN PERIKANAN UNIVERSITAS TADULAKO PALU 2019 PERTUMBUHAN MALEO (Macrocephalon Maleo) UMUR 7-12 BULAN DALAM KANDANG PENANGKARAN EX-SITU PT. PANCA AMARA UTAMA, KECAMATAN BATUI, KABUPATEN BANGGAI Disusun Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Peternakan pada Fakultas Peternakan dan Perikanan Universitas Tadulako Oleh MUHAMAD ALI O 121 15 037 PROGRAM STUDI PETERNAKAN JURUSAN PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN DAN PERIKANAN UNIVERSITAS TADULAKO PALU 2019 RINGKASAN Muhamad Ali (O 121 15 037) Pertumbuhan Maleo (Macrocephalon Maleo) Umur 7-12 Bulan Dalam Kandang Penangkaran Ex-Situ PT. Panca Amara Utama, Kecematan Batui, Kabupaten Banggai Dibawah bimbingan (Mobius Tanari) Pertumbuhan adalah proses pertambahan volume dan jumlah sel sehingga ukuran tubuh mahluk hidup itu bertambah besar. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan Maleo (Macrocephalon maleo) umur 7-12 bulan dalam kandang penangkaran ex situ. Penelitian dilaksanakan di kandang konservasi ex situ PT. Panca Amara Utama, Desa Uso, Kecamatan Batui Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah pada Bulan Februari – Agustus. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dan regresi untuk melihat pola pertumbuhan maleo. Materi yang digunakan adalah maleo hasil penetasan sebanyak 20 ekor. Variabel pengamatan meliputi bobot awal, konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan konversi ransum. Hasil penelitian menunjukan bahwa PBB meningkat dengan perolehan bobot badan pada maleo umur 12 Bulan sebesar 1304,36 g. Konsumsi ransum Maleo umur 12 bulan sebesar 915,78 g. Dengan nilai konversi sebesar 9,86. Pertumbuhan maleo sangat variatif sampai dengan kisaran 10 bulan dan cenderung tetap mulai umur 11 bulan. Pada umur tersebut konsumsi pakan cenderung tetap diikiuti oleh konversi ransum yang tinggi. Kata Kunci: Burung Maleo, Pertumbuhan, Konservasi Ex-Situ ? KATA PENGANTAR Puji Syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas Rahmat, dan Hidayah-Nya, atas rezeki dan karunianya yang telah diberikan kepada penulis sehingga mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi yang Berjudul Pertumbuhan Maleo (Macropcephalon maleo) Umur 7-12 Bulan Dalam Kandang Penangkaran Ex-situ PT. Panca Amara Utama Kecematan Batui, Kabupaten Banggai dapat terselesaikan dengan baik. Suatu kebanggaan yang sangat berarti bagi penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Segala hormat dan terimakasih secara khusus penulis ucapkan kepada kedua orang tua penulis Madudin dan Sarimah, orang tua yang telah ikhlas membesarkan penulis dari sejak lahir hingga mengantarkannya menjadi mahasiswa dengan kasih sayang dan penuh kesabaran ketabahan tanpa pamrih, serta memberikan dukungan baik secara materi maupun doa yang tiada henti untuk penulis. Semoga Allah memberikan kesehatan dan kebahagiaan kepada bapak dan ibu. Penulis menyadari bahwa selama penyusunan skripsi ini, masih jauh dari kesempurnaan, olehnya diharapkan kepada pembaca memberikan masukan-masukan yang sifatnya membangun demi kesempurnaan skripsi ini, penulis menemukan hambatan dan kesulitan namun berkat kemauan dan jalinan kerjasama yang baik dari berbagai pihak sehingga skripsi ini dapat terselesaikan, bantuan berupa petunjuk, bimbingan yang intensif, curahan waktu dan motifasi, mulai dari perencanaan judul, penyusunan proposal, pelaksanaan penelitian hingga penyusunan skripsi.Segala kerendahan hati penulis mengucapkan terimakasih yang tulus dan sedalam-dalamnya kepada berbagai pihak diantaranya kepada : 1. Bapak Prof. Dr.Ir. Mahfudz,MP Selaku Rektor Universitas Tadulako yang telah memberikan kesempatan dan fasilitas kepada penulis untuk menimba ilmu pengetahuan di Universitas Tadulako. 2. Bapak Prof. Ir. Burhanuddin Sundu, M.ScAg.Ph.D Selaku Dekan Fakultas Peternakan dan Perikanan, Universitas Tadulako.. 3. Wakil Dekan Fakultas Peternakan dan Perikanan Universitas Tadulako. Selanjutnya penulis mengucapkanterima kasih sedalam dalamnya kepada Ketua Jurusan Peternakan dan Perikanan, Sekertaris Jurusan dan Kordinator Program Studi Peternakan, serta seluruh Dosen staf pengajar dan staf kepegawai jurusan peternakan Fakultas Peternakan dan Perikanan Universitas Tadulako. 4. Bapak Prof. Ir. Muhammad Hamsun S.Pt, M.Sc, Ag.,Ph.D (Almarhum) selaku Dosen wali penulis yang banyak memberikan masukan, serta motivasi kepada penulis. 5. Bapak Dr. Ir. Mobius Tanari, M.P selaku dosen pembimbing skripsi saya yang dengar sabar selalu memberi arahan, bimbingan, waktu dan motivasi sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi. 6. Bapak Dr.Ir. Najamudin, M.Si dan Bapak Muh. Ilyas Mumu, S.Pt., M.Sc. Ag.,Ph.D selaku dosen penguji terima kasih atas waktu, masukan dan arahannya. 7. Penulis juga mengucapkan dengan penuh rasa haru dan hormat kepada ayahanda tercinta Bapak Madudin, Ibu tercinta Ibu Sarimah, kakak kandung Syaiful Rahman, Dedi Arisandi, Rosalinda sebagai ucapan terima kasih yang tak terhingga dengan penuh kesabaran dan keikhlasan membesarkan, mengasuh dan mendidik, disertai dengan do’a yang tulus dan pengorbanan tanpa pamrih hingga dapat mengantarkan penulis ke jenjang pendidikan tinggi. 8. Penulis mengucapkan banyak terima kasih yang setuluusnya kepada. PT. Panca Amara Utama yang telah memberikan kesempatan dan kepercyaan dalam melaksanakan penelitian. 9. Penulis mengucapkan banyak terima kasih yang setulusnya kepada rekan penelitian Meydi S.Pt, Cicisilia Bonde S.Pt, Bertha Sau Datuan S.Pt, Leydhis yang telah banyak membantu dalam proses penelitian hingga berakhirnya penelitian. 10. Penulis mengucapkan terima kasih atas do’a dan dukungan teman-teman satu angkatan 2015. Dian ariska S.Pt, Muhammad Sofyan S.Pt, Asnawir, Alan Sanjaya, Oki Pratomo dan Moh. Irfan serta yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. 11. Penulis mengucapkan terima kasih atas do’a dan dukungan teman-teman seperjuangan.Nurhidayat, Roi Irawan, Danang firmansah, Andri Saputra, Lalu Muh Jamil S.Sos dan Moh Faisal S.H yang sudah banyak memberikan nasehat. 12. Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Lum’atun Mardiyah yang sudah banyak memberikan nasehat, semangat , do’a dan dukungan. 13. Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman. Aisah, Nurbaya, Lisa dan fitri yang sudah banyak memberikan semangat dan dukungan. 14. Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman himater angkatan 2015 ( Cervus timorensis ) 15. Penulis mengucapkan terima kasih atas do’a dan dukungan teman-teman KKN Desa mensung angkatan 82. Arif, Adrianto, Maya, Rukmana, Alma dan Dian. Semoga segala budi baik Bapak dan Ibu Serta Saudara-saudaraku senantiasa mendapat imbalan pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT. Penulis mengharapkan semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat kepada semua pihak yang membutuhkan. Amin. Palu, September 2019 Penulis DAFTAR ISI Halaman HALAMAN SAMPUL i HALAMAN JUDUL ii HALAMAN PENGESAHAN iii HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN iv RINGKASAN v KATA PENGANTAR vi DAFTAR ISI x DAFTAR TABEL xii DAFTAR GAMBAR xiii BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 1.2 Tujuan Penelitian 3 1.3 Manfaat Penelitian 3 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Deskripsi dan Taksonomi Burung Maleo 4 2.2 Pertumbuhan Burung Maleo 6 2.3 Perkembangbiakan 7 2.4 Pakan dan Tingkah Laku 9 2.5 Habitat 10 2.6 Konservasi Ex Situ 11 BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian 13 3.2 Materi Penelitian 13 3.3 Prosedur Penelitian 13 3.3.1 Tahap Persiapan 13 3.3.2 Tahap Pelaksanaan 14 3.4 Variabel yang Diamati 14 3.4.1 Bobot Badan Awal 14 3.4.2 Konsumsi Ransum 14 3.4.3 Pertambahan Bobot Badan 15 3.4.4 Konversi Ransum 15 3.5 Desain Penelitian 15 BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 1.1 Bobot Badan Awal 16 1.2 Konsumsi Ransum 16 1.3 Pertambahan Bobot Badan 19 1.4 Konversi Ransum 21 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan 23 5.2 Saran 23 DAFTAR PUSTAKA 24 LAMPIRAN 27 RIWAYAT HIDUP 32 DAFTAR TABEL Tabel 4-1 Bobot Awal Maleo Umur 7 Bulan yang Dipelihara Dalam Kandang Pemeliharaan 16 Tabel 4-2. Rata-Rata Konversi Ransum Pada Burung Maleo Selama Enam Bulan Pemeliharaan Umur 7 – 12 Bulan 22 DAFTAR GAMBAR Gambar 2-1 Burung Maleo Dalam Kandang 5 Gambar 4-1 Rata-Rata Konsumsi Ransum (g/ekor/bulan) Burung Selama 6 Bulan Pemeliharaan (7-12) Bulan 17 Gambar 4-2 Rata-Rata Bobot Badan (g/ekor) Burung Maleo Tiap Bulan Penimbangan Selama Enam Bulan Pemeliharaan 19 Gambar 4-3 Konsentrat yang Diberikan Pada Maleo 21 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Burung maleo tergolong satwa liar yang langka dan dilindungi berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi sumber Daya Alam dan Ekosistemnya, selanjutnya dilingdungi berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 421/KPTS/SUM/8/1970 dan Surat Keputusan Kehutanan Nomopr 301/KPTS-II/1991 dan Nomor 882/KPTS-II/1992 serta Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 90/KPTS/UM/2/1997 serta Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999, tanggal 27 Januari 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa (Ma’dika 2001 dalam Zulfikar 2004). Selain pemerintah Indonesia, perhatian Dunia Internasional juga sangat besar terhadap keadaan populasi burung maleo yang semakin kritis sehingga IUCN (International Union Conservation for Nature and Resources) pada tahun 1996 mengeluarkan Red Data Book yang isinya mencantumkan bahwa burung maleo sebagai salah satu jenis satwa yang terancam punah (Endangered Species). Kepadatan populasi burung maleo di dalam belum diketahui populasi maleo (kepadatan 0,2 maleo/Km²) di Tangkoko Sulawesi Utara, tetapi populasi tersebut telah mengalami penurunan lebih dari 80% sejak akhir 1970-an akibat pengambilan telur secara intensif (O’Brien dan Kinnaird 1996). Burung maleo merupakan salah satu burung endemik Sulawesi yang unik. Penyebarannya di Sulawesi cukup luas utamanya di Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah. Kawasan konservasi yang terkenal sebagai burung habitat maleo di Sulawesi Tengah antara lain Suaka Margasatwa Bakirang, Cagar Alam Morowali, Suaka Margasatwa Tanjung Matop, dan Taman Nasioanal Lore Lindu (TNLL) (BKSDA, 2002). Guna menjaga ekstensi sekaligus memulihkan populasi maleo, perlu dilakukan kegiatan konservasi. Konservasi burung dapat dilakukan secara in situ (di dalam habitat alaminya), seperti melalui perlindungan jenis burung yaitu pembinaan habitat dan populasi secara ex situ (di luar habitat alaminya), yaitu salah satu diantaranya melalui penangkaran. Penangkaran dapat menyebabkan burung mengalami perubahan lingkungan dari alam bebas menjadi terbatas, termasuk perubahan dalam proses adaptasi dan tingkah laku keseharian (Saerang, 2010). Kegiatan penangkaran burung tidak hanya sekedar untuk kegiatan konservasi jenis dan peningkatan populasi, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk pendidikan, penelitian, dan pengembangan wisata. Hasil penangkaran dapat dilepas ke habitat alam (sesuai dengan syarat-syarat dan peraturan yang berlaku), dikembangkan di kebun binatang, dan taman burung (Saerang, 2010). Salah satu faktor yang menyebabkan kegagalan regenerasi burung maleo di habitatnya adalah iklim yang berfluktuasi yang dapat mempengaruhi suhu kelembaban sarang bertelur sehingga akan berpengaruh pada persentase telur yang menetas (Tanari, 2007). Pada proses penetasan secara alami, kontrol terhadap suhu dan kelembaban sulit dilakukan sehingga persentase daya tetas yang dihasilkan rendah. Selain itu pengawasan dan pengamatan tempatbertelur susah dilakukan karena tempatnya yang jauh dari pemukiman. Keadaan yang demikian menyebabkan populasi burung maleo semakin berkurang akibat berbagai gangguan habitat dan regenerasi yang tidak berjalan dengan baik. Untuk mengantisipasi masalah kegagalan regenerasi in-situ, konservasi diluar habitat asli (ex situ) perlu dikembangkan dengan cara penetasan buatan sebagai alternatif pemecahan untuk mempercepat pemulihan (recovery) populasi serta kemungkinan lainnya dilakukan pemeliharaan secara ex situ sehingga populasi yang berhasil dikembangkan nantinya dikembalikan ke habitat aslinya. Mengacu pada latar belakang masalah tersebut, penelitian ini dimaksudkan sebagai studi awal dalam pemeliharaan burung maleo sehingga diperlukan penelitian pola pertumbuhan burung maleo (macrocephalonmaleo) yang dipelihara dalam kandang penangkaran ex situ. Berdasarkan beberapa uraian yang dikemukakan diatas, dilakukan suatu penelitian mengenai bagaimana pola pertumbuhan burung maleo (Macrocephalon maleo) dipelihara dalam kandang penangkaran ex situ di Desa Uso, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai. 1.2 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan maleo (Macrocephalon maleo) umur 7-12 bulan dalam kandang penangkaran ex situ 1.3 Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk mendapatkan tambahan informasi habitat perkembangan burung maleo di penangkaran (ex situ). Serta dapat menambah pengetahuan dan wawasan tentang pertumbuhan burung maleo (Macrocephalon maleo) dipelihara dalam kandang penangkaran ex situ. BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Deskripsi dan Taksonomi Burung Maleo Pulau Sulawesi merupakan pulau yang sangat penting sebagai penyimpan kekayaan burung di Indonesia.Sejumlah 381 spesies burung endemik di indonesia, 115 apesies di antaranya hidup di Indonesia dan 96 spesies hanya ditemukan di Sulawesi Tengah. Jumlah ini jauh lebih banyak jika di bandingkan dengan jumlah burung endemik di pulau-pulau lain di seluruh indonesia. Selain itu, pulau Sulawesi juga memiliki burung yang spesifik dan khas. Hal ini dapat dilihat dengan terdapatnya 14 genus endemik yang menghuni pulau Sulawesi. Salah satu burung endemik yang terkenal adalah Burung Maleo (Macrocephalon maleo). Burung maleo (Macrocephalon maleo) adalah salah satu jenis satwa liar endemik Sulawesi yang langka.Burung ini termasuk spesies Burrow nester, yaitu burung pembuat lubang atau liang dan tersebar hampir di semua daratan Sulawesi yang meliputi Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara (Tanari et al, 2008). Burung maleo tersebar di seluruh Provinsi Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara. Populasinya terganggu oleh predator seperti biawakdan perburuan oleh manusia (MacKinnon, 1981). Taksonomi burung maleo adalah sebagai berikut. Kelas : Aves Ordo : Galliformes Sub Ordo : Gali Famili : Megapodiidae Sub Famili : Crocoidae Genus : Macrocephalon Spesies : Macrocephalon maleo Sal Muller, 1846 (Hermansyah, 2011). Gambar 2-1 Burung Maleo Dalam Kandang Burung maleo merupakan hewan yang berhabitat khas, hanya bisa hidup di dekat pantai berpasir panas atau di pegunungan yang memiliki sumber mata air panas, sebab di daerah ini burung maleo bisa mengerami telurnya yaitu dengan cara mengubur telur di dalam pasir hingga kedalaman 15 cm (Ruddiah, 2012). Burung maleo tidak menggunakan panas tubuh untuk menetaskan telur mereka, melainkan mengubur telur di pasir pantai terkena sinar matahari sepanjang pantai atau di tanah vulkanik panas yang cukup untuk menetaskan telur burung maleo (Argeloo, 1994). Burung maleo juga memiliki keunikan mulai dari struktur tubuh, habitat, hingga tingkah lakunya yang anti poligami. Burung maleo (Macrocephalon maleo) besarnya kira-kira sama dengan ayam betina piaraan, dengan bulu bagian dada agak merah jambu keputih-putihan dan bagian lainnya berwarna hitam, di bagian dada ada bintik-bintik kuning melingkar, ekornya tegak dan kepalanya memiliki tengkorak gundul atau hampir tak berbulu dengan tonjolan menyerupai helm. Keistimewaan burung maleo ini adalah, meskipun besar tubuhnya relatif tidak jauh berbeda dengan ayam kampung, namun telurnya 5-6 kali dari telur ayam kampong, sedangkan warna telurnya relatif sama dengan telur ayam biasa yaitu mendekati warna merah dadu (Gunawan, 1993). Karakteristik unik dari maleo (Galliformes: Megapodiidae: Macrocephalon maleo) membuat burung ini menjadi salah satu spesies penting di Sulawesi, dan juga salah satu yang paling terancam punah di pulau Indonesia. Burung ini seperti ayam hitam dan memiliki bulu berwarna merah muda di bagian dada (Gorog et al, 2005). 2.2 Pertumbuhan Burung Maleo Pertumbuhan morfometri maleo sangat variatif sampai dengan kisaran umur 30 minggu, kemudian pertumbuhan salanjutnya menjadi stabil, tetapi belum menunjukkan pola sigmoid. Lebih lanjut dinyatakan perubahan morfologi banyak terjadi pada saat maleo berumur 48 minggu yaitu warna bulu dada berubah menjadi merah muda bercampur putih, paruh berwarna oranye kuning dan chepalon tumbuh lebih tinggi menurut Saerang (2010). maleo memiliki ukuran tubuh sebesar ayam kampung dewasa dengan berat badan 1,61 kg, panjang tubuh 50-55 cm. Sutedja dan Indrabrata (1993) menyatakan bahwa maleo betina umumnya lebih kecil dari pada maleo jantan, paruh berwarna oranye, merah atau abu-abu, kadang hitam. Pertumbuhan maleo seiring dengan meningkatnya pertambahan umur. Proses pertumbuhan maleo sangat tergantung pada pakan serta kondisi habitat. Makanan maleo berupa biji-bijian dan buah-buahan yang banyak tumbuh dihutan. Jenis biji dan buah yang banyak dimakan maleo antara lain biji kemiri (Aleurites moluccana), buah nibung, rao (dracontomelon mungiferum), nantu (endiandra sp) Ficus sp, Macaranga sp sementara jenis biji-bijian berupa biji kedelai selain itu maleo juga memakan cacing, siput dan kepiting (Gunawan, 2000). 2.3 Perkembangbiakan Maleo termasuk burung yang bersifat monogami, setiap pasang jantan dan betina hampir dipastikan akan selamanya menjadi pasangan yang tidak tepisahkan. Burung maleo (Macrocephalon maleo) tidak mengerami telurnya seperti bangsa burung pada umumnya, tetapi meletakan telurnya di dalam tanah atau pasir yang memiliki sumber panas dari bumi. Jumlah telur yang seekor maleo betina pertahun atau permusim tidak di ketahui dengan pasti, tetapi diperkirakan setiap 12-13 hari atau sekitar 30 butir per tahun (Saerang et al, 2011). Faktor kunci bagi maleo senkawor dalam memilih lokasi bertelur adalah: (1) sumber panas, (2) aksesibilitas, (3) keamanan dari gangguan, dan (4) musim (untuklokasi bersumber panas matahari). Dalam menentukan sarang untuk meletakkan telur, maleo senkawor cenderung lebih menyukai tempat dengan kondisi: (1) aman dari gangguan manusia, (2) efektivitas sumber panas, (3) kelembaban tanah, (4) pengaruh iklim mikro di atas permukaan tanah (terutama hujan), dan (4) keamanan dari predator (Gunawan, 2000). Menurut Buchart dan Baker (1999) puncak musim kawin burung maleo antara bulan januari hingga maret. Burung maleo Seperti semua megapoda lainnya, maleo tidak menetaskan telur mereka dengan tubuh panas tapi menggunakan sumber panas alternatif. Untuk reproduksi mereka mereka sepenuhnya tergantung pada tanah vulkanik panas dan pantai yang terpapar sinar matahari, di mana mereka mengubur telur mereka pada suhu sekitar 34°C. Setelah bertelur, burung kembali ke hutan dan burung maleo akan kembali ke sarang hanya untuk fase bertelur berikutnya (Dekker, 1990). Penggalian lubang dimulai pada pukul tujuh dan berlangsung antara 1 sampai 3 jam hingga selesai. Apabila ada bahaya (kedatangan manusia), mereka langsung terbang dan meninggalkan pekerjaannya yang belum selesai, tetapi biasanya datang kembali pada tengah hari hingga sore harinya (12:00–15:00). Penggalian tanah dilakukan bergantian antara betina dan jantan, bila betina sedang menggali yang jantan menjaga dan mengawasi keadaan sekitar. Pergantian pekerjaan berinterval antara 15–20 menit. Lamanya penggalian dan kedalaman lubang berhubungan dengan kondisi tekstur tanah (Gunawan, 1993). Dekker (1990) menyatakan bahwa pola peneluran burung maleo yang teratur yakni membuat lubang tiruan di sekeliling sarang yang berisi telur. Burung maleo bertelur sekali setiap 7–9 hari selama periode 2–3 bulan. Produksi telur diperkirakan 8–12 butir per induk pertahun. Burung maleo akan menggali lubangsebagai sarang peneluran, induk maleo meletakkan telurnya di dalam lubang tersebut dan menimbunnya kemudian dengan bekas galian (Gunawan, 1993). Setelah telur diletakkan dan ditimbun dengan dengan aman, sepasang induk maleo itupun terbang meninggalkan tempat bertelurnya untuk kemudian beristirahat di cabang–cabang pohon dekat lokasi peneluran. Setelah meningggalkan telurnya induk maleo tidak pernah mengawasi atau mengusiknya lagi hingga telur tersebut menetas dengan bantuan panas matahari atau panas bumi. Mereka sama sekali tidak peduli apakah telurnya menetas, dimakan predator, pecah, busuk atau diambil pencuri (Gunawan, 1993). Telur maleo yang diletakkan di tanah tersebut akan menetas setelah 60–80hari. Induk maleo akan kembali bertelur setelah interval waktu 9–14 hari dan telurnya diletakkan pada lubang yang berbeda dengan telur sebelumnya, jadi dalam satu lubang hanya terdapat satu telur. Setiap sekali bertelur hanya sebutir dan dalam satu musim bertelur induk maleo dapat menghasilkan 8–12 butir (Gunawan, 1993). 2.4 Pakan dan Tingkah Laku Burung maleo termasuk dalam jenis hewan omnivora yang makanannya terdiri atas buah-buahan, biji-bijian dan invetebrata seperti; kumbang, semut, rayap, cacing serta siput air tawar dan siput darat (Jones et al. 1995) Makanan maleo pada umumnya adalah biji-bijian dan beberapa jenis buah-buahan di hutan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa biji atau buah yang dimakan antara lain adalah biji kemiri (Aleurites moluccana), buah nibung, rao (Dracontomelon mangiferum), nantuk (Endiandra sp.), Ficus sp.,Macaranga sp. dan biji kacang-kacangan di ladang seperti kedelai, selain itu maleo juga memakan siput air tawar, kepiting dan cacing (Gunawan 1994) Selanjutnya Wiriosoepartho (1979) menyatakan bahwa berdasarkan pembedahan temboloknya burung maleo selain makan buah-buahan dan biji-bijian juga memakan serangga hutan seperti belalang, kupu-kupu, semut, cacing dan kepiting. Di Kebun Binatang Ragunan burung maleo diberi makan gabah, kacang hijau, kacang tanah, tauge, kangkung, ulat hongkong dan papaya (Nasoetion,1997). Burung maleo aktif mencari makan mulai dari matahari terbit hingga matahari terbenam. Mereka mencari makan di sekitar tempat bertelurnya jika di lokasi tersebut tersedia cukup makanan, namun pada musim kemarau, dimana makanan kurang tersedia di sekitar tempat bertelurnya, burung maleo hanya bersembunyi di bawah naungan (Wiriosoepartho,1980). Wiriosoepartho (1979) menyatakan bahwa burung maleo mencari makan dengan cara menggaruk dan mencakar tanah dan memakan makanan yang ditemukannya. 2.5 Habitat Habitat adalah suatu lingkungan dengan kondisi tertentu dimana suatu spesies atau komunitas hidup. Habitat yang baik akan mendukung perkembangbiakan organisme yang hidup di dalamnya secara normal. Habitat memiki kapasitas tertentu untuk mendukung pertumbuhan populasi suatu organisme. Dalam hidupnya, satwa liar (burung) membutuhkan pakan, air dan tempat dari ancaman dan tempat untuk bersarang, istirahat dan membesarkan anaknya (Yuliani, 2008). Habitat alami burung maleo adalah hutan meliputi pantai hutan bakau (mangrove) dan hutan dataran rendah. Burung maleo menyukai daerah berpasir yang hangat untuk membuat sarang dan melakukan aktifitas lain, sedangkan daerah hutan dan semak merupakan tempat mencari makan, berlindung, tidur dan kawin (Addin, 1992). Burung maleo (Marcochepalon maleo) hidup di hutan dataran rendah dan perbukitan sampai ketinggian 1.200 m dpl. Mereka turun untuk berbiak di pantai atau areal hutan terbuka dengan substrat berpasir, pada areal pantai burung maleo berbiak di belakang mangrove (Gunawan, 1994). Burung maleo hidup secara liar terutama di dalam belukar mulai dari pantai datar yang panas dan terbuka sampai ke hutan pegunungan yang lebat dengan batas ketinggian yang belum jelas. Selain itu di habitat alaminya burung maleo hidup di hutan-hutan, tidak kurang dari 25 jenis pohon yang dihinggapi untuk berteduh, istirahat atau tidur. Burung maleo hidup secara liar terutama di dalam semak belukardari tempat datar yang panas dan terbuka sampai ke hutan pegunungan yang lebat dengan dengan batas ketinggian yang belum jelas (Nurhalim, 2013). Burung maleo selalu menyembunyikan diri di semak belukar atau hutan apabila ada hal-hal yang dianggap membahayakan keselamatannya. Pendengaran burung maleo kurang baik sehingga dapat didekati bila memperhatikan arah angin dan posisi burung maleo (Addin, 1992). 2.6 Konservasi Ex -Situ Konservasi ex-situ adalah proses melindungi spesies tumbuhan dan hewan (langka) dengan mengambilnya dari habitat yang tidak aman atau terancam dan menempatkannya atau bagiannya di bawah perlindungan manusia (Ngabekti, 2013). Fungsi utama dari konservasi ex-situ (Departement Kehutanan, 2007; Suhandi, 2015) adalah melakukan usaha perawatan dan penangkaran berbagai jenis satwa untuk membentuk dan mengembangkan habitat baru sebagai sarana perlindungan dan pelestarian alam yang di manfaatkan untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta untuk sarana rekreasi alam yang sehat. Ada beberapa kelebihan dan kekurangan dalam penyelenggaraan kegiatan konservasi ex-situ. Kelebihannya antara lain dapat mencegah kepunahan lokal pada berbagai jenis tumbuhan akibat adanya bencana alam dan kegiatan manusia, dapat dipakai untuk arena perkenalan berbagai jenis tumbuhan dan wisata alam bagi masyarakat luas, berguna untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama yang berkaitan dalam kegiatan budidaya jenis hewan dan tumbuhan; sedangkan kelemahannya antara lain, konservasi ex-situ memerlukan kegiatan eksplorasi dan penelitian terlebih dahulu (Irwanto, 2007). BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di kandang konservasi ex situ PT Panca Amara Utama, Desa Uso, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah pada bulan Februari – Agustus. 3.2 Materi Penelitian Bahan dan alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah. Maleo hasil penetasan sebanyak 20 ekor, pakan komersial (ayam pedaging fase grower) dengan kandungan protein 21?n pakan konvensional (kemiri), Kandang komunal berukuran 4x10 m sebanyak satu buah dan timbangan 1000 g dengan skala ketelitian 20 g. 3.3 Prosedur Penelitian 3.3.1 Tahap persiapan • Menyiapkan kandang penelitian sebelumnya berupa kandang komunal berukuran 4x10 m untuk maleo yang berumur 7 bulan sampai umur 1 tahun. Kandang dilengkapi dengan tempat minum dan makan. • Menyiapkan pakan konvensional berupa buah kemiri yang telah dipecahkan selanjutnya di berikan pakan komersial. • Pakan komersial berupa pakan ayam pedaging fase grower untuk maleo sampai umur 12 bulan. 3.3.2 Tahap Pelaksanaan • Setiap maleo diberi label berupa nomor yang terbuat dari plastik dan dilingkarkan pada bagian sayap. Maleo 7 bulan ditimbang terlebih dahulu untuk mendapatkan bobot awal. • Maleo akan dipelihara dalam kandang percobaan selama 6 bulan (sampai umur ± 12 bulan). • Selama percobaan, maleo diberi pakan komersial dan air minum secara ad libitum. • Pemberian pakan dilakukan secara bersama untuk burung maleo di dalam kandang komunal. Pakan ditimbang sebelum diberikan dan sisanya ditimbang setiap minggu untuk mengetahui konsumsi pakan mingguan dan diakumulasi satu bulan untuk mendapatkan rataan konsumsi per individu. Untuk meminimalkan terjadinya stres pada maleo, maka penimbangan sisa pakan dilakukan setiap minggu. • Bobot badan maleo ditimbang setiap satu bulan sampai penimbangan bobot badan akhir di akhir percobaan. Tujuannya adalah untuk meminimalkan terjadinya stres pada maleo. 3.4 Variabel yang Diamati 3.4.1 Bobot Badan Awal Bobot badan awal ditimbang pada saat maleo berumur 7 bulan 3.4.2 Konsumsi Ransum (g/ekor) Konsumsi ransum diukur berdasarkan jumlah ransum yang dihabiskan selama penelitian.Pengukuran dilakukan dengan menimbang ransum sebelum diberikan dan menimbang sisa ransum setiap akhir minggu, kemudian dijumlahkan untuk mendapatkan konsumsi ransum selama penelitian. Rumus yang digunakan untuk mengetahui konsumsi ransum sebagai berikut : Konsumsi ransum (g/minggu) = Ransum yang diberikan (g) – sisa ransum (g) 3.4.3 Pertambahan Bobot Badan (g/ekor) Pertambahan bobot badan dihitung berdasarkan bobot badan akhir penelitian dikurangi dengan bobot awal penelitian. Penimbangan bobot badan dilakukan per ekor setiap minggu untuk melihat pertambahan bobot badan tiap minggu. Rumus yang digunakan sebagai berikut : PBB (g) = Berat Badan Akhir (g) – Berat Badan Awal (g) 3.4.4 Konversi Ransum Konversi ransum dihitung dengan membagi jumlah ransum yang dikonsumsi dengan pertambahan bobot badan selama penelitian. Rumus yang digunakan sebagai berikut : Konversi Ransum = Konsumsi Ransum (g) Pertambahan Bobot Badan (g) 3.5 Analisis Data Data hasil penelitian baik pada konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan konversi ransum ditabulasi dan dianalisis secara deskriptif berdasarkan variabel yang diamati yakni dengan menghitung jumlah rataan dan analisis regresi untuk melihat pola pertumbuhan maleo umur 7-12 bulan. BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Bobot Badan Awal Penelitian dilakukan pada 20 ekor burung maleo hasil penetasan dengan menggunakan inkubator, burung maleo dipelihara selama 6 (enam) bulan untuk mengetahui pertumbuhan sebagai respon pemberian pakan komersil. Adapun data bobot awal burung maleo dapat dilihat pada Tabel 4-1. Tabel 4-1 Bobot Awal Maleo Umur 7 Bulan yang Dipelihara Dalam Kandang Pemeliharaan Maleo BB Maleo BB 1 530,78 11 498,68 2 524,04 12 504,38 3 536,15 13 444,66 4 526,68 14 459,64 5 442,54 15 450,59 6 443,81 16 451,16 7 495,51 17 480,61 8 440,54 18 458,64 9 523,98 19 502,66 10 498,98 20 527,10 Rataan ± Stdev 487,06 ± 34,02 Rata-rata bobot badan awal burung maleo yang dijadikan materi sebesar 487,06g ± 34,02g. Bobot awal terendah 442,54g. dan tertinggi 536,68g. Bobot awal yang bervariaasi oleh karena bobot telur yang ditetaskan juga bervariasi. 4.2 Konsumsi Ransum Kebutuhan zat-zat nutrisi maleo sampai saat ini belum tersedia. Hal ini dikarenakan penelitian nutrisi maleo belum banyak dilakukan. Penelitian maleo masih di sekitar habitat dan cara menangani regenerasi yang tepat untuk tetap lestari. Penelitian konsumsi ransum dan nutrisi maleo belum secara rinci dilakukan, namun masih terpusat pada kebutuhan untuk tetap hidup. Rata-rata konsumsi ransum (g) setiap bulan dan total konsumsi ransum pada burung maleo selama enam bulan pemeliharaan dapat di lihat pada Gambar 4-1. Rataan konsumsi ransum pada burung maleo memperlihatkan peningkatan konsumsi. Peningkatan konsumsi tersebut berbanding lurus dengan pertambahan bobot badan burung maleo. Sehingga tidak ada dampak yang kelihatan terutama di kotoran burung maleo. Tanari (2007) yang melakukan penelitian yang sama menjelaskan bahwa pemberian protein pada tingkatan 21% memperlihatkan kotoran yang berminyak dan berwarna hitam. Lebih jauh dijelaskan bahwa kemungkinan tersebut karena kebutuhan burung maleo akan protein dan karbohidrat telah berlebih, sehingga sisa terbuang melalui feses. Gambar 4-1 Rata-Rata Konsumsi Ransum (g/Ekor/Bulan) Burung Selama 6 Bulan Pemeliharaan (7-12) Bulan Jumlah konsumsi ransum dengan pemberian taraf protein ransum 19% sebesar 768,84g dan pada bulan ke dua belas sebesar 915,78g atau dengan rataan per bulan sebesar 588,05 g/bulan. Jika dilihat dari pola konsumsi pakan burung maleo mengikuti pola polynomial dengan garis regresi y = -6.4063x2 + 73.979x + 701.71, dengan koefisien determinasi sebesar 0,9994. Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi ransum maleo dipengaruhi oleh umur pemeliharaan. Gambar 4-1 juga memperlihatkan bahwa konsumsi ransum maleo umur 7 sampai 11 bulan meningkat dan pada umur 12 bulan cenderung stabil. Hasil penelitian Tanari (2007) pada pemberian ransum 21% pemeliharaan maleo selam lima bulan menunjukkan rataan konsumsi ransum sebesar 612,66. Jumlah konsumsi ransum, selain ditentukan oleh kualitas ransum, juga ditentukan oleh kecukupan ransum dan daya tampung organ (intestinum) pada ternak selanjutnya kualitas dan kecukupan ransum akan menentukan optimalnya potensi genetik yang dimiliki oleh seekor ternak. Hardjosubroto (1994) menyatakan bahwa penampilan dari suatu sifat tergantung pada gen-gen yang dimiliki ternak, tetapi keadaan lingkungan yang menunjang diperlukan untuk memberikan kesempatan penampilan suatu sifat secara penuh. Selanjutnya Martojo (1992) menyatakan bahwa lingkungan berpengaruh langsung terhadap fenotipe seekor hewan melalui makanan, penyakit, dan pengelolaan, tetapi tidak dapat mempengaruhi genotipe hewan. 4.3 Pertambahan Bobot Badan Rata-rata bobot badan akhir maleo (g/ekor) tiap bulan penimbangan selama enam bulan pemeliharaan pada gambar 4-2. Jika dilihat dari nilai bobot badan bulanan pada pemberian pakan yang sama dengan sistem ad libitum menunjukkan pertambahan yang semakin meningkat yakni dari 487,06 ± 34,02 pada maleo umur 6 bulan hingga 1304,36g. Gambar 4-2 Rata-Rata Bobot Badan (g/ekor) Burung Maleo Tiap Bulan Penimbangan Selama 6 Bulan Pemeliharaan Pola pertambahan bobot badan pada maleo di bulan ketujuh sampai dengan bulan ke dua belas mengikuti regresi polynomial yakni y = -13.765x2 + 237.45x + 400.46, dengan koefisien determinasi sebesar 0,9845. Gambar 4-2 menjelaskan bahwa umur berhubungan dengan meningkatnya bobot badan. Bobot badan maleo sampai umur 11 bulan cenderung naik dan pada bulan kedua belas cenderung stabil. Pertambahan bobot badan yang masih cenderung naik disebabkan perubahan morfologi tubuh yang belum sempurna termasuk proses pertumbuhan maleo, sehingga pakan yang dikonsumsi cenderung masih digunakan pada proses pertumbuhan termasuk penyempurnaan pertumbuhan morfologi lainnya. Walaupun tidak sama dengan unggas lainnya namun respon terhadap pemberian pakan dengan protein tercukupkan menunjukkan hasil yang relatif baik. Jika dibandingkan dengan bobot badan maleo dewasa yang ada di habitat aslinya, maka bobot badan maleo dalam penangkaran cenderung lebih ringan. Deker (1990) menyatakan bahwa bobot badan maleo ± 1,6 kg dan ukuran lingkar badan burung dewasa sebesar 39,5 cm. Selanjutnya MacKinnon (1981) menyatakan bahwa bobot badan Maleo 1,5 kg. Hasil penelitian Bunce (2001) menyatakan bahwa anak burung Australian gannet yang ditempatkan pada kandang bobot badannya lebih rendah dibandingkan dengan yang ditempatkan di luar kandang. Jika dilihat dari konsumsi ransum pada umur pemeliharaan umur tuju bulan sampai dengan dua belas bulan cenderung meningkat, namun peningkatan bobot badan maleo pada umur dua belas bulan tidak sebanding dengan peningkatan bobot badannya. Leske dan Coon (1999) menyatakan bahwa tidak selamanya kenaikan konsumsi ransum akan sebanding dengan pertambahan bobot badan, setiap ternak berbeda kemampuannya dalam mencerna ransum yang dikonsumsi. Dari aspek genetik dapat dipahami bahwa perbedaan respon terhadap konsumsi pakan yang terjadi akibat respon genotipe terhadap cekaman lingkungan melalui fenotipe setiap ternak. Gambar 4-3 Konsentrat yang Diberikan Pada Maleo 4.4 Konversi ransum Konversi ransum dapat menggambarkan efesiensi penggunaan makanan, makin kecil konversi ransum, maka makin tinggi efesiensi penggunaan makanan tersebut. Nilai konversi ransum yang fluktuatif berhubungan dengan nilai konsumsi ransum yang cenderung semakin naik, namun pertambahan bobot badan menurun pada umur pemeliharaan tertentu atau sebaliknya bobot badan meningkat sementara konsumsi ransum tetap. Kecukupan protein pada pemeliharaan burung maleo secara ex situ, menyebabkan burung maleo menampilkan pertumbuhannya dengan baik, sehingga relatif efesien dalam menggunakan ransum. Nilai konversi ransum yang diperoleh pada pemeliharaan maleo sampai umur dua belas bulan sebesar 9,86. Konversi ransum pada setiap tingkat pemeliharaan berbeda. Nilai konversi tertinggi diperoleh pada pemeliharaan maleo dua belas bulan sebesar 30,58 sedangkan konversi terendah pada umur pemeliharaan tujuh bulan yakni sebesar 5,28. Rendahnya konversi ransum pada umur pemeliharaan tujuh bulan diakibatkan oleh pertambahan bobot badan maleo yang tinggi, sedangkan pada umur pemeliharaan dua belas bulan nilai konversi sangat tinggi yakni sebesar 30,58. Tabel 4-2 Rata-Rata Konversi Ransum Pada Burung Maleo Selama 6 Bulan Pemeliharaan Umur 7 – 12 Bulan Rata-rata konversi bulanan Rataan Bulan 7 8 9 10 11 12 5.28 5.258 5.514 4.170 8.360 30.58 9.86 Hartati (1997) dalam pemeliharaan ayam kampung umur 20-22 bulan mendapatkan nilai konversi pakan 11,17 sampai 18,17 dan Prilajuari (1990) memperoleh konversi pakan ayam kampung pada umur 52 minggu (satu tahun) sebesar 16,23. Selanjutmya Tanari (2007) mendapatkan rataan konversi pakan sebesar pada lima bulan pemeliharaan burung maleo sebesar 8,95?B5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: 5.1.1 Rata-rata bobot badan awal burung maleo yang digunakan dalam penelitian ini adalah 487,06 ± 34,02 g. 5.1.2 Rata-rata pertambahan bobot badan burung sampai umur dua belas bulan dalam penelitian ini adalah 1304,36 g. 5.1.3 Rata-rata konsumsi ransum burung maleo sampai umur dua belas bulan adalah 588,05 g/bulan. 5.1.4 Rata-rata nilai konversi ransum burung maleo sampai umur dua belas bulan adalah sebesar 9,86. 5.2 Saran Penelitian tentang pertumbuhan burung maleo sampai pada umur dewasa perlu dilakukan untuk mengetahui batas pertumbuhan maksimal bobot badan. DAFTAR PUSTAKA Addin, A., 1992. Karakteristik Mikro Habitat Tempat Bertelur Burung Maleo (Macrocephalon Maleo SAL. Muller 1846) Pada Habitat Alami Dalam Upaya Penangkaran di Suaka Margasatwa Buton Utara Sulawesi Tenggara. Skripsi Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Bogor. Argeloo M., 1994. The Maleo Macrocephalon maleo: New information on the distribution and status of Sulawesi's Endemic Megapode, Bird Conservation International / Volume 4 / Issue 04 / December 1994, pp 383 - 393DOI: 10.1017/S0959270900002896, Published online: 11 May 2010. Alikorda, H.S., (2002). Pengelolaan Satwa Liar Jilid 1. Yayasan Penerbit Fakultas Kehutanan, Institut Petanian Bogor, Bogor. Anonim, 2011. Suara Maleo. Edisi 1/Maret. Hal 07. Sulawesi Tengah. Buchart, S.H.M, Backer Gillian C,. 1999. Priority Sites For Conservation of Maleos (Macrocephalon Maleo) in Central Sulawesi, Department of Zoology, Downing Street, Cambridge CB2 3EJ, UK, 102a Chester Terrace, Brighton BN1 6GD, UK, Biological Conservation 94 (2000) 7991. BKSDA. 2002. Informasi Beberapa Kawasan Konzervasi di Propinsi Sulawesi Tengah.Departemen Kehutanan Direktur Jenderal Perhitungan Hutandan Konservasi Alam. Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesitengah. Dekker, R.W.R.J dan T.G. Brom. 1990. Maleo Eggs and The Amount of Yolk in Relation to Differents Incubation Strategies in Megapodes. Australian of Zoologi 38 :19-24. Dekker, R.W.R.J. 1990. The Distribution and Status Of Nesting Grounds of The Maleo (Macrocephalon Maleo) in Sulawesi, Indonesia. Biol. Conservation 51 : 39-150. Gunawan, H, 1993. Burung Maleo (Macrocephalon Maleo Sal. Muller 1846) Satwa Langka Endemik Sulawesi. Buletin Rimba Sulawesi. Ujung Pandang, Volume : Hlm 12-23. Gunawan, H., 1994. Karakteristik Lapangan Peneluran Alami Burung Maleo (Macrocephelon Maleo) di Taman Nasional Dumoga Bone, Sulawesi Utara.Jurnal Penelitian Kehutanan 7(1): 176-188. Gunawan, H., 2000. Strategi Burung Maleo (Macrocephalon Maleo SALL. MULLER 1846) Dalam Seleksi Tempat Bertelurnya di Sulawesi. Tesis. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor. Gorog, J.A., Pamungkas, Bhayu, J. Lee, Robert, 2005. Nesting Ground Abandonment By The Maleo (Macrocephalon Maleo) in North Sulawesi: Identifying Conservation Priorities For Indonesia’s Endemic Megapode, Biological Conservation 126 (2005) 548–555. Hardjosubroto, W. 1994. Aplikasi Pemuliaan Ternak di Lapangan. Gramedia. Jakarta Hartati, R. 1997. Penampilan Ayam Kampung Umur 20-22 Bulan Dengan Frekuensi Pemberian Pakan Berbeda. [Skripsi]. Bogor. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Irwanto, 2007. Konservasi Biodiversitas. Http://Www.Irwantoshut.Com (15 Oktober 2016). Leske, K.L And C.N Coon, 1999. Nutrient Content and Protein and Energy Digestibilities Of Ethanol Axtracted, Low (X-Galactoside Soybean Meal As Compared To Intact Soybean Meal. Poult. Sci. 78:1177-1183. Mackinnon, J. 1981. Methods For Conservation of Maleo Birds (Macrocephalon Maleo) on the Island of Sulawesi, Indonesia. Biologi Conservation 20: 183-193. Madika, B., Dkk., (2001). Laporan Survei Status Maleo (Macrocephalon Maleo) di Taman Nasional Lore Lindu. Yayasan Jambata. Martojo, H. 1992. Peningkatan Mutu Genetik Ternak. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Pusat Antar Universitas Bioteknologi IPB, Bogor. Ngabekti, S. 2013., Konservasi Beruang Madu di KWPLH Balikpapan. Biosaintifika: Journal of Biology and Biology Education 5(2): 90 – 96. Nurhalim, 2013. Karakteristik Habitat dan Tingkah Laku Bertelur Burung Maleo (Macrocephalon Maleo Sal. Muller 1846) di Blok Hutan Pampaea Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, Skripsi, Jurusan Peternakan, Fakultas Peternakan, Universitas Halu Oleo, Kendari. O’Brien, T. G., dan Kinnaird, M. F. (1996). Birds and Mammals Of The Bukit Barisan Selatan National Park, Sumatra, Indonesia. Oryx, 30(03), 207–217. Prilajuari, A., 1990. Produksi dan Kualitas Ayam Kampung. Ayam Pelung dan Ayam Bangkok. [Karya Ilmiah]. Bogor. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Rozali, R., 2012. Kajian Tentang Respon Fisiologis Burung Maleo (Macrocephalon Maleo) Balai Penelitian Daerah, Sulawesi Tengah. Saerang, J.L.P., 2010. Kajian Biologis Maleo (Macrocephalon Maleo) yang di Pelihara Secara Ex Situ. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Saerang J.L.P., Vonny R.W.R., Dan Lucia L.,2011. Teknologi Penetasan Burung Maleo (Macrocephelon Maleo) Sebagai Upaya Untuk Mengatasi Kepunahan. Univerrsitas Sam Ratulangi. Manado. Suhandi, A.P. 2015. Perilaku Harian Orangutan (Pongo Pygmaeus Linnaeus) Dalam Konservasi Ex-Situ di Kebun Binatang Kasang Kulim Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar Riau. Jom Faperta 2(1): 14. Tanari, M., 2007. Karateristik Habitat , Morfologi dan Genetika Serta Pengembangan Teknologi Penetasan Ex Situ Burung Maleo (Acrocephalon Maleo Sal. Muller 1984)Sebagai Upaya Meningkatakan Efektifitas Konservasi [Disertasi]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Tanari, M., Rusiyantono, Y. dan Hafsah, 2008. Teknologi Penetasan Telur Burung Maleo (Macrocephalon Maleo Sal. Muller 1846) Sebagai Upaya Konservasi. Jurnal Agroland 15 (4) : 336 - 342. Wiriosoepartho, A.S., 1979. Pengamatan Habitat dan Tingkah Laku Bertelur Maleo (M. Maleo. Sal Muller) di Kompleks Hutan Dumoga Sulawesi Utara. Dep. Pertanian. Lembaga Penelitian Hutan Bogor. Wiriosoepartho, A.S.,1980. Penggunaan Habitat Dalam Berbagai Aktivitas oleh (Macrocephalon Maleo Sal Muller) di Cagar Alam Panua, Sulawesi Utara. Laporan 356. Lembaga Penelitian Hutan, Departemen Pertanian. Bogor Yuliani, N., 2008. Burung Maleo (Macrocephalon Maleo) Salah Satu Satwa Endemik Sulawesi yang Terancam Punah. Jurnal Nusa Sylva. Vol. 8: 24–30. LAMPIRAN Lampiran 1. Konsumsi Ransum NO Bulan 7 8 9 10 11 12 1 791.33 810.58 860.66 939.54 950.39 955.66 2 691.89 790.98 890.68 910.35 908.34 915.67 3 761.85 819.78 889.34 860.63 880.88 888.55 4 781.63 822.48 866.66 870.55 880.15 894.33 5 797.35 820.68 860.35 977.77 880.88 888.66 6 801.99 810.58 870.77 890.88 900.32 915.89 7 822.87 867.58 890.36 910.54 933.33 934.16 8 791.33 810.79 830.88 860.15 880.55 898.56 9 781.33 810.58 830.69 880.52 910.38 922.99 10 741.12 780.77 830.66 860.54 910.26 918.76 11 691.36 750.58 815.69 865.55 880.18 890.55 12 791.33 910.58 930.66 960.54 980.88 888.66 13 761.37 815.48 857.17 867.59 920.87 933.35 14 781.34 845.15 880.66 900.74 920.89 933.45 15 761.26 855.75 876.87 900.58 920.12 918.66 16 782.66 842.28 866.66 875.93 880.66 903.23 17 765.32 838.55 885.55 900.55 910.44 945.55 18 771.95 854.22 830.66 902.54 911.18 918.66 19 765.88 830.81 875.61 910.65 915.99 927.99 20 741.73 810.88 860.96 890.14 910.88 922.35 Jumlah 15376.89 16499.08 17301.54 17936.28 18187.57 18315.68 Rataan 768.8445 824.954 865.077 896.814 909.3785 915.784 Lampiran 2. Bobot badan maleo umr 6 – 12 bulan No Bulan 6 7 8 9 10 11 12 1 530.78 720.35 830.22 1020.15 1175.48 1345.65 1375.35 2 524.04 716.15 849.68 1039.04 1165.25 1305.36 1365.13 3 536.15 738.38 900.31 1100.15 1310.33 1410.67 1440.55 4 526.68 730.23 880.22 1040.15 1300.34 1360.9 1375.14 5 442.54 630.44 810.8 980.25 1170.67 1290.22 1335.28 6 443.81 645.66 785.44 962.21 1164.55 1334.55 1376.81 7 495.51 665.64 828.33 983.22 1162.66 1344.88 1372.66 8 440.54 640.29 790.89 960.62 1140.88 1331.45 1360.65 9 523.98 723.15 855.21 1003.66 1263.78 1409.33 1430.35 10 498.98 678.33 830.55 994.44 1240.69 1340.33 1380.22 11 498.68 687.88 855.24 974.34 1216.66 1344.55 1372.37 12 504.38 710.12 870.66 1010.11 1239.8 1345.49 1364.33 13 444.66 616.78 765.66 924.52 1186.77 1318.22 1340.44 14 459.64 673.88 846.95 980.99 1170.33 1346.66 1387.43 15 450.59 655.32 838.33 980.31 1182.55 1335.88 1365.29 16 451.16 662.24 849.44 990.88 1255.35 1300.55 1345.15 17 480.61 680.33 850.66 1000.66 1283.84 1327.78 1339.89 18 458.64 665.46 854.88 1015.12 1162.45 1308.77 1346.99 19 502.66 710.78 880.22 1000.44 1254.66 1316.77 1355.78 20 527.1 730.43 900.33 1070.55 1265.66 1415.88 1432.74 Jumlah 9741.13 12961.49 16043.8 19011.66 23137.22 25488.24 26087.2 Rataan 487.0565 648.0745 802.19 950.583 1156.861 1274.412 1304.36 Lampiran 3 Gambar Menyiapkan pakan maleo Lampiran 4. Gambar Pengukuran Maleo Lampiran 5.Gambar Pengukuran Maleo DAFTAR RIWAYAT HIDUP Penulis bernama Muhamad Ali lahir pada tanggal 11 Desember 1996 di Sukamaju Kecamatan Batui Selatan, Kabupaten Banggai,Provinsi Sulawesi Tengah. Penulis merupakan anak ke empat dari empat bersaudara yang merupakan anak dari pasangan suami istri Madudin dan sarimah. Penulis mengawali pendidikannya di Sekolah Dasar Negri Batui Selatan dari tahun 2003 sampai tahun 2009, kemudian Penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Batui Selatan dari tahun 2009 sampai 2012, selanjutnya Penulis masuk Madrasah Aliyah Darul Ulum Toili tahun 2012 dan lulus pada tahun 2015. Saat ini Penulis melanjutkan pendidikan di Universitas Tadulako dengan mengambil jurusan Peternakan, Fakultas Peternakan dan Perikanan, Kota Palu. .

Item Type: Thesis (Undergraduate Theses)
Subjects: University Structure > Faculty of Animal Husbandry and Fisheries > Animal Husbandry
S1 - Undergraduate Thesis > Faculty of Animal Husbandry and Fisheries > Animal Husbandry
Divisions: Faculty of Animal Husbandry and Fisheries > Animal Husbandry
Tadulako Subject Areas > S1 - Undergraduate Thesis > Faculty of Animal Husbandry and Fisheries > Animal Husbandry
Depositing User: system estd estd
Date Deposited: 30 Sep 2019 07:03
Last Modified: 30 Sep 2019 06:35
URI: http://repository.untad.ac.id/id/eprint/1754

Actions (login required)

View Item View Item