CEKAMAN KEKERINGAN BEBERAPA KULTIVAR PADI GOGO ASAL KABUPATEN BUOL MENGGUNAKAN PEG 6000 (Polyethylene Glycol) PADA FASE PERKECAMBAHAN

SYNTIA S. TANSIDI (2026) CEKAMAN KEKERINGAN BEBERAPA KULTIVAR PADI GOGO ASAL KABUPATEN BUOL MENGGUNAKAN PEG 6000 (Polyethylene Glycol) PADA FASE PERKECAMBAHAN. Sarjana thesis, Universitas Tadulako.

Full text not available from this repository.

Abstract

SYNTIA S. TANSIDI (E28121118) Cekaman Kekeringan Beberapa
Kultivar Padi Gogo Asal Kabupaten Buol Menggunakan PEG
(Polyethylene Glycol) Pada Fase Perkecambahan (Dibimbing oleh
Maemunah dan Rahmi 2025).
Budidaya padi gogo merupakan alternatif yang dapat membantu
meningkatkan produksi pangan nasional. Cekaman kekeringan merupakan
faktor abiotik utama yang dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan,
dan produksi padi gogo, bahkan kematian tanaman. Fase perkecambahan
merupakan fase awal pertumbuhan tanaman karena berpotensi mempengaruhi
kemampuan tanaman pada fase pertumbuhan selanjutnya. Pengetahuan tentang
fase kritis tanaman, penting bagi pemuliaan dalam menentukan saat yang tepat
untuk memberikan cekaman kekeringan pada program seleksi untuk
menentukan genotipe yang tahan terhadap kekeringan. Salah satu model
pengujian yang dapat digunakan dalam melakukan seleksi kultivar yang toleran
yaitu dengan penggunaan Polyethylene glycole. Penelitian ini dilaksanakan di
Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih, Fakultas Pertanian, Univarsitas
Tadulako, Palu. Waktu penelitian dimulai pada bulan Januari sampai dengan
April 2025. Tujuan penelitian yaitu untuk mengkaji adanya interaksi antara
kultivar dengan berbagai kosentrasi PEG 6000, untuk mendapatkan kultivar
padi gogo yang tahan terhadap kekeringan pada fase perkecambahan, serta
untuk mendapatkan kosentrasi PEG 6000 yang dapat berkecambah normal.
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang dirancang dengan dua
faktor dengan pola factorial dan menggunakan RAL. Faktor pertama terdiri dari
empat kultivar padi gogo yaitu 1=Pare pulu bongo, 2=Pare langsat, 3=Pare cina,
4=Pare douk. Faktor kedua terdiri atas tiga taraf kosentrasi PEG 6000 yaitu
kontrol (air), 10%, 20%, sehingga diperoleh 12 unit percobaan yang diulang
sebanyak tiga kali dengan total 36 unit percobaan. Berdasarkan hasil penelitian
diperoleh bahwa terdapat interaksi antara kultivar pare langsat dengan
kosentrasi 10% menunjukkan kombinasi yang paling stabil dan respon terbaik.
Yang menghasilkan waktu berkecambah lebih cepat dan paling stabil, daya
kecambah, potensi tumbuh maksimum, serta bobot basah dan bobot kering
tertinggi. Kultivar pare langsat merupakan kultivar yang memiliki respon
perkecambahan terbaik karena menunjukkan performa keunggulan disetiap
parameter. Konsentrasi PEG 10% merupakan kosentrasi yang efektif dalam
mempertahankan viabilitas benih padi untuk tumbuh normal.

Item Type: Thesis (Sarjana)
Subjects: Tadulako University - Divisions > Fakultas Pertanian > Agroteknologi
S Agriculture > Agroteknologi
Divisions: Fakultas Pertanian > Agroteknologi
Library of Congress Subject Areas > S Agriculture > Agroteknologi
Date Deposited: 11 May 2026 06:04
Last Modified: 11 May 2026 06:04
URI: https://repository.untad.ac.id/id/eprint/154987
Baca Full Text: Baca Sekarang

Actions (login required)

View Item
View Item