BENTUK DAN MAKNA VERBAL DAN NON VERBAL DALAM TRADISI “NANTALE” DI DESA TULO KECAMATAN DOLO KABUPATEN SIGI

GINA LESTARI (2026) BENTUK DAN MAKNA VERBAL DAN NON VERBAL DALAM TRADISI “NANTALE” DI DESA TULO KECAMATAN DOLO KABUPATEN SIGI. Sarjana thesis, Universitas Tadulako.

Full text not available from this repository.

Abstract

Gina Lestari, 2025. “Bentuk dan Makna Verbal dan Non Verbal Dalam Tradisi Nantale di Desa Tulo Kecamatan Dolo Kabupaten Sigi”. Skripsi, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Jurusan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Tadulako, Pembimbing I Dr. Ulinsa, M.Hum., Pembimbing II Nirmayanti, S.Pd., M.Pd. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana bentuk verbal dan nonverbal dalam tradisi Nantale di Desa Tulo Kecamatan Dolo Kabupaten Sigi, serta bagaimana makna verbal dan non verbal dalam tradisi Nantale di Desa Tulo Kecamatan Dolo Kabupaten Sigi. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan bentuk verbal dan non verbal dalam tradisi Nantale di Desa Tulo Kecamatan Dolo Kabupaten Sigi, serta mendeskripsikan makna verbal dan nonverbal dalam tradisi Nantale di Desa Tulo Kecamatan Dolo Kabupaten Sigi. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan kajian semiotik. Data dari penelitian ini diperoleh langsung dari Ketua Adat, tokoh adat dan tokoh masyarakat yang paham mengenai tradisi Nantale. Data dikumpulkan melalui teknik observasi, kepustakaan, dokumentasi dan melakukan wawancara secara langsung. Kemudian teknik analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menemukan bahwa bentuk verbal dalam tradisi Nantale adalah (1) Gane-gane (Mantra) dan (2) Doa selamat. Hasil penelitian juga menemukan bentuk non verbal dalam tradisi Nantale mencangkup 8 simbol utama dan 17 simbol pelengkap. Simbol utama dan simbol pelengkap yang dimaksud adalah (1) Gumma (Parang Dulu), (2) Tava Loka (Daun Pisang), (3) Suraya Sasio (Sembilan Piring), (4) Manu Tunu (Ayam Bakar), (5) Mbesa (Sarung Dulu), (6) Tovau (Kambing), (7) Asu Kodi (Anjing Kecil), (8) Bolovatu Bulava (Bambu Kuning), (9) Dupa (Kemenyan), (10) Daun kado mbuku, (11) Gelas, (12) Pisang sepatu dua sisir, (13) Paepulu (Nasi Pulut), (14) Vaje sembilan, (15) Pisang rebus sembilan, (16) Jagung bakar sembilan, (17) Donco Sagu sembilan, (18) Nasi sembilan, (19) Rica sembilan, (20) Pinang sembilan, (21) Sirih sembilan, (22) Gambir sembilan, (23) Kapur sirih sembilan, (24) Kelapa parut dua bungkus, dan (25) Garam dua bungkus. Ritual ini tidak hanya berfungsi secara fisik, tetapi juga memiliki makna spiritual yang dalam, yang mencerminkan hubungan masyarakat Kaili dengan leluhur, alam, dan kekuatan spiritual lainnya. Penelitian ini juga menyoroti bagaimana tradisi Nantale berhasil mempertahankan dan mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal dengan ajaran agama Islam, menciptakan harmoni antara adat dan agama dalam kehidupan masyarakat Kaili. Dengan demikian, penelitian ini memperkaya pemahaman tentang dinamika budaya, menunjukkan bagaimana ritual adat bisa tetap relevan dan hidup meskipun ada perubahan sosial dan agama. Kata kunci: bentuk dan makna verbal, bentuk dan makna nonverbal, tradisi Nantale di Desa Tulo.

Item Type: Thesis (Sarjana)
Subjects: Tadulako University - Divisions > Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan > Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
L Pendidikan > Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Divisions: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan > Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Library of Congress Subject Areas > L Pendidikan > Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Date Deposited: 20 May 2026 06:55
Last Modified: 20 May 2026 06:55
URI: https://repository.untad.ac.id/id/eprint/155225
Baca Full Text: Baca Sekarang

Actions (login required)

View Item
View Item