INGGIT WULANDARI (2026) Zonasi Kerentana Gerakan Tanah Desa Poi,Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah. Sarjana thesis, Universitas Tadulako.
Full text not available from this repository.Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi geomorfologi dan geologi serta menentukan zonasi bahaya longsor r di lokasi penelitian. Metode yang diterapkan meliputi survei lapangan, pengukuran kemiringan lereng, studi litologi, analisis struktur geologi, dan analisis data dengan menggunakan metode LandslideHazard Evaluation Factor (LHEF) yang diperkenalkan oleh Anbalagan (1992) untuk mendapatkan nilai Total Estimated Hazard Rating (TEHR). Nilai TEHR yang diperoleh dari masing-masing parameter selanjutnya diolah menggunakan teknik overlay peta untuk menciptakan peta zonasi kerentanan gerakan tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa area penelitian didominasi oleh lereng dengan kemiringan sedang hingga curam, yang dipengaruhi oleh adanya struktur geologi seperti rekahan, retakan, dan patahan. Berdasarkan hasil analisis menggunakan metode LHEF daerah penelitian terbagi menjadi 3 kelas kerentanan, yaitu zona dengan risiko sedang mencakup sekitar 7,2 Ha (34,5%), zona risiko tinggi seluas 14,6 Ha (57,5%), dan zona risiko sangat tinggi seluas 1,9 Ha (8%). Zona risiko tinggi hingga sangat tinggi umumnya berada pada lereng curam yang memanjang mengikuti kontur lembah dan mengindikasikan adanya ketidakstabilan di lapangan. Keadaan ini meningkatkan kemungkinan pergerakan material menuju bagian hilir yang dekat dengan permukiman penduduk. Oleh karena itu, peta zonasi yang dibuat dapat dimanfaatkan sebagai dasar dalam perencanaan tata ruang dan upaya untuk mitigasi bencana longsor di area penelitian.Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi geomorfologi dan geologi serta menentukan zonasi bahaya longsor r di lokasi penelitian. Metode yang diterapkan meliputi survei lapangan, pengukuran kemiringan lereng, studi litologi, analisis struktur geologi, dan analisis data dengan menggunakan metode LandslideHazard Evaluation Factor (LHEF) yang diperkenalkan oleh Anbalagan (1992) untuk mendapatkan nilai Total Estimated Hazard Rating (TEHR). Nilai TEHR yang diperoleh dari masing-masing parameter selanjutnya diolah menggunakan teknik overlay peta untuk menciptakan peta zonasi kerentanan gerakan tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa area penelitian didominasi oleh lereng dengan kemiringan sedang hingga curam, yang dipengaruhi oleh adanya struktur geologi seperti rekahan, retakan, dan patahan. Berdasarkan hasil analisis menggunakan metode LHEF daerah penelitian terbagi menjadi 3 kelas kerentanan, yaitu zona dengan risiko sedang mencakup sekitar 7,2 Ha (34,5%), zona risiko tinggi seluas 14,6 Ha (57,5%), dan zona risiko sangat tinggi seluas 1,9 Ha (8%). Zona risiko tinggi hingga sangat tinggi umumnya berada pada lereng curam yang memanjang mengikuti kontur lembah dan mengindikasikan adanya ketidakstabilan di lapangan. Keadaan ini meningkatkan kemungkinan pergerakan material menuju bagian hilir yang dekat dengan permukiman penduduk. Oleh karena itu, peta zonasi yang dibuat dapat dimanfaatkan sebagai dasar dalam perencanaan tata ruang dan upaya untuk mitigasi bencana longsor di area penelitian.Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi geomorfologi dan geologi serta menentukan zonasi bahaya longsor r di lokasi penelitian. Metode yang diterapkan meliputi survei lapangan, pengukuran kemiringan lereng, studi litologi, analisis struktur geologi, dan analisis data dengan menggunakan metode LandslideHazard Evaluation Factor (LHEF) yang diperkenalkan oleh Anbalagan (1992) untuk mendapatkan nilai Total Estimated Hazard Rating (TEHR). Nilai TEHR yang diperoleh dari masing-masing parameter selanjutnya diolah menggunakan teknik overlay peta untuk menciptakan peta zonasi kerentanan gerakan tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa area penelitian didominasi oleh lereng dengan kemiringan sedang hingga curam, yang dipengaruhi oleh adanya struktur geologi seperti rekahan, retakan, dan patahan. Berdasarkan hasil analisis menggunakan metode LHEF daerah penelitian terbagi menjadi 3 kelas kerentanan, yaitu zona dengan risiko sedang mencakup sekitar 7,2 Ha (34,5%), zona risiko tinggi seluas 14,6 Ha (57,5%), dan zona risiko sangat tinggi seluas 1,9 Ha (8%). Zona risiko tinggi hingga sangat tinggi umumnya berada pada lereng curam yang memanjang mengikuti kontur lembah dan mengindikasikan adanya ketidakstabilan di lapangan. Keadaan ini meningkatkan kemungkinan pergerakan material menuju bagian hilir yang dekat dengan permukiman penduduk. Oleh karena itu, peta zonasi yang dibuat dapat dimanfaatkan sebagai dasar dalam perencanaan tata ruang dan upaya untuk mitigasi bencana longsor di area penelitian.
| Item Type: | Thesis (Sarjana) |
|---|---|
| Subjects: | Tadulako University - Divisions > Fakultas Teknik > Teknik Geologi T Technology > Teknik Geologi T Technology > Teknik Geologi |
| Divisions: | Fakultas Teknik > Teknik Geologi Library of Congress Subject Areas > T Technology > Teknik Geologi Library of Congress Subject Areas > T Technology > Teknik Geologi |
| Date Deposited: | 25 Jun 2026 07:09 |
| Last Modified: | 25 Jun 2026 07:09 |
| URI: | https://repository.untad.ac.id/id/eprint/155915 |
| Baca Full Text: | Baca Sekarang |

