ANALISIS BREAK EVEN POINT BAWANG GORENG PADA UMKM LINDA DI KOTA PALU

-, Nurul Arifani (2026) ANALISIS BREAK EVEN POINT BAWANG GORENG PADA UMKM LINDA DI KOTA PALU. Sarjana thesis, UNIVERSITAS TADULAKO.

Full text not available from this repository.

Abstract

Penelitian ini berjudul “Analisis Break Even Point Bawang Goreng pada
UMKM Linda di Kota Palu”. Penelitian ini dilatar belakangi oleh pentingnya
mengetahui kondisi titik impas (Break Even Point/BEP) dalam usaha mikro
kecil dan menengah (UMKM) yang bergerak di bidang pengolahan bawang
goreng. Fluktuasi harga bahan baku bawang merah menyebabkan terjadinya
perubahan pada biaya produksi yang berdampak pada penerimaan dan
pendapatan usaha. Oleh karena itu, analisis BEP diperlukan untuk mengetahui
jumlah minimum produksi yang harus dicapai agar usaha tidak mengalami
kerugian. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis besarnya jumlah
produk dari berbagai kemasan (75 gram, 100 gram, 200 gram, 500 gram) untuk
mendapatkan titik impas (Break Even Point) pada usaha Bawang Goreng UMKM
Linda di Kota Palu. Hasil analisis break-even point (BEP) pada usaha bawang
goreng, diketahui bahwa setiap ukuran kemasan memerlukan jumlah penjualan
yang berbeda untuk mencapai titik impas. Kemasan 75 gram mencapai titik
impas pada penjualan sebanyak 147 kemasan dengan harga jual Rp27.000 per
kemasan dan penerimaan sebesar Rp3.969.000, sedangkan kemasan 100 gram
mencapai titik impas pada penjualan sebanyak 105 kemasan dengan harga jual
Rp32.000 dan penerimaan sebesar Rp3.360.000, kemasan 200 gram mencapai
titik impas pada penjualan sebanyak 22 kemasan dengan harga jual Rp61.000
dan penerimaan sebesar Rp1.342.000, sementara kemasan 500 gram mencapai
titik impas paling cepat, yaitu pada penjualan sebanyak 5 kemasan dengan
harga jual Rp150.000 dan penerimaan sebesar Rp750.000. Berdasarkan hasil
analisis Break-Even Point (BEP), dapat disimpulkan bahwa setiap ukuran
kemasan bawang goreng memiliki tingkat penjualan yang berbeda untuk
mencapai titik impas. Kemasan 75 gram membutuhkan volume penjualan
paling besar, sedangkan kemasan 500 gram mampu mencapai titik impas paling
cepat dan memberikan keuntungan per unit yang lebih tinggi karena margin
kontribusi yang lebih besar. Oleh karena itu, kemasan 500 gram dapat dianggap
lebih menguntungkan dari sisi profit per unit, sementara kemasan 75 gram
lebih unggul dalam jumlah penjualan di pasar.

Item Type: Thesis (Sarjana)
Subjects: Tadulako University - Divisions > Fakultas Pertanian > Agribisnis
S Agriculture > Agribisnis
Divisions: Fakultas Pertanian > Agribisnis
Library of Congress Subject Areas > S Agriculture > Agribisnis
Depositing User: Bayu Anggara Permana
Date Deposited: 29 Jul 2026 01:32
Last Modified: 29 Jul 2026 01:32
URI: https://repository.untad.ac.id/id/eprint/156783
Baca Full Text: Baca Sekarang

Actions (login required)

View Item
View Item