NI LUH YUNIASIH (2026) KAJIAN YURIDIS AWIG-AWIG DALAM PENYELESAIAN SENGKETA PEMANFAATAN AIR ( STUDI PADA SUBAK ABDI LUHUR ). Sarjana thesis, Universitas Tadulako.
Full text not available from this repository.Abstract
Masyarakat adat Bali memiliki sistem norma yang secara tradisional dikenal dengan istilah awig-awig, dimana aturan adat ini dibentuk untuk menjaga keharmonisan kehidupan bermasyarkat berdasarkan filosofi Tri Hita Karana. Dalam ranah pertanian, manifestasi dari aturan adat ini dijalankan memalui subak, yaitu sebuah organisasi tradisional kemasyarakatan yang bersifat mandiri dan keagamaan. Masyarakat Adat Bali yang ada di Desa Suli Indah Kecamatan Balinggi tetap mempertahankan tradisi ini melalui organisasi Subak Abdi Luhur. Namun, dalam praktiknya sering kali sengketa muncul akibat dari terjadinya pelanggaran terhadap awig-awig. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana terjadinya sengketa pemanfaatan air pada Subak Abdi Luhur dan untuk mengetahui peran awig-awig dalam penyelesaian sengketa pemanfaatan air pada Subak Abdi Luhur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian empiris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sengketa pemanfaatan air pada Subak Abdi Luhur terjadi akibat dari adanya pelanggaran oleh anggota subak terhadap aturan pemanfaatan air yang telah ditetapkan dalam awig-awig. Pelanggaran tersebut berupa perbuatan mengubah ukuran temuku melebihi batas 10 cm, sehingga mengakibatkan anggota subak yang lahan sawahnya berada jauh dari temuku (teben) mengalami kerugian, kerena kekurangan air. Tanpa adanya awig-awig yang mengatur terkait ukuran yang jelas pada temuku, perbuatan tersebut tidak akan dapat dikategorikan sebagai pelanggaran yang akhirnya mengakibatkan terjadinya sengketa. Kemudian terkait peran, Awig-awig pada subak abdi luhur memiliki peran sebagai dasar bagi setiap anggota subak dalam menjalankan kegiatan pertanian, karena awig-awig lahir dari kesepakatan bersama seluruh anggota subak dengan berdasarkan pada filosofi Tri Hita Karana. Dalam hal ini petani mematuhi awig awig sebagai wujud menghormati kesepakatan yang telah dibuat agar tercipta keharmonisan antara sesama manusia, alam dan pencipta. Karakteristik awig-awig yang berlandaskan pada nilai kemasyarakatan dan keagamaan menegaskan posisi awig-awig sebagai sistem nilai yang dianggap suci. Sehingga megakibatkan kepatuhan pada setiap anggotanya serta memiliki kekuatan daya paksa yang lebih kuat.
| Item Type: | Thesis (Sarjana) |
|---|---|
| Subjects: | Tadulako University - Divisions > Fakultas Hukum > Ilmu Hukum Ilmu Hukum |
| Divisions: | Fakultas Hukum > Ilmu Hukum Library of Congress Subject Areas > Ilmu Hukum |
| Date Deposited: | 03 Aug 2026 02:49 |
| Last Modified: | 03 Aug 2026 02:49 |
| URI: | https://repository.untad.ac.id/id/eprint/156947 |
| Baca Full Text: | Baca Sekarang |

