Delineasi Kerapatan Sesar Menggunakan Metode Fault Fracture Density Di Wilayah Kabupaten Banggai

SANDRA GIRANA S.LAMATO (2026) Delineasi Kerapatan Sesar Menggunakan Metode Fault Fracture Density Di Wilayah Kabupaten Banggai. Sarjana thesis, Universitas Tadulako.

Full text not available from this repository.

Abstract

DELINEASI KERAPATAN SESAR MENGGUNAKAN METODE FAULT FRACTURE DENSITY DI WILAYAH KABUPATEN BANGGAI Sandra*), R. Efendi1), Abdullah1), Sandra1), Mauludin1), Badar1) 1) Program Studi Teknik Geofisika, Fakultas Fisika dan Matematika, Universitas Tadulako *) Email: sandralamato@gmail.com Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola kelurusan, kerapatan sesar, dan percepatan tanah maksimum di Kabupaten Banggai menggunakan metode Fault Fracture Density (FFD) dan Peak Ground Acceleration (PGA). Data yang digunakan meliputi citra DEM SRTM resolusi 30×30 m yang diolah melalui Global Mapper 18 dan PCI Geomatica, serta data katalog gempa bumi BMKG selama sepuluh tahun pada rentang waktu 2012–2022. Nilai kerapatan sesar yang didapatkan kemudian dikelompokan menjadi 3 kelas kerapatan, yaitu kerapatan rendah (0.53 – 1.0) yang berwarna hijau, kerapatan sedang (1.0 – 1.6) yang berwarna dan yang terakhir dengan kerapatan tinggi (1.6 – 2.1) yang berwarna merah. Kecamatan Toili, Toili Barat, dan Moilong tampak berkorelasi dengan baik antara PGA dan FFD karena memiliki nilai yang tinggi di tiga Kecamatan tersebut. Percepatan tanah dengan intensitas tertinggi terdapat di wilayah Kabupaten Banggai berada pada Kecamatan Toili, Toili Barat, dan Moilong dengan nilai 146 gal dengan skala MMI VIII dan untuk intensitas terendah terdapat pada wilayah timur Kabupaten Banggai. Kata kunci: PGA, Sesar, FFD PENDAHULUAN Kompleksitas tektonik di wilayah Sulawesi merupakan akibat tunjaman tiga lempeng utama, yaitu Fasifik, Eurasia, dan Indo-Australia. Mikrolempeng Banggai-Sula terbentuk dari lempeng Australia bagian utara yang terpotong dan menyusup masuk kedalam lempeng Eurasia pada bagian tengah Sulawesi, Mikrolempeng ini bergerak kearah barat dan menumbuk lengan timur Sulawesi, menyebabkan deformasi struktur geologi salah satunya yaitu sesar-sesar disekitar zona tumbukan. Kerumitan zona patahan ini seringkali menimbulkan misinterpretasi sumber penyebab suatu gempabumi (Watkinson, 2011). Banggai terletak di jalur sesar aktif di daratan dan perairan sekitarnya, sehingga daerah ini rentan terhadap aktivitas seismik. Pada tanggal 12 April 2019, tepatnya pukul 18:40:51 WITA, wilayah Kabupaten Morowali dan Kepulauan Banggai diguncang oleh gempa bumi tektonik dengan magnitudo Mw 6,9. Pusat gempa atau hiposenter terletak di Teluk Tolo, sekitar 82 kilometer sebelah barat daya dari Kepulauan Banggai, dengan kedalaman mencapai 17 kilometer di bawah permukaan laut. Berdasarkan pemetaan sesar aktif Indonesia tahun 2017, peristiwa seismik ini diperkirakan berasal dari aktivitas Sesar Peleng, yang dikenal sebagai salah satu sesar aktif dengan potensi menimbulkan gempa signifikan di area tersebut (Sipayung., 2019). Kabupaten Banggai memiliki kerentanan geologis tinggi karena kondisi tektonik yang aktif. Daerah ini mengalami deformasi akibat interaksi antar lempeng, yang menciptakan struktur geologi seperti sesar dan lipatan. Jalur sesar aktif di daratan dan perairan meningkatkan kompleksitas geologi, menjadikannya rentan terhadap gempa. Gabungan struktur geologi dan aktivitas tektonik membuat Kabupaten Banggai berpotensi mengalami gempa besar, yang dapat mempercepat getaran tanah dan mempengaruhi keselamatan infrastruktur di daerah tersebut. (Naryanto, 2017) TINJAUAN PUSTAKA Geologi Regional Lokasi Penelitian Wilayah penelitian berada dalam Peta Geologi Lembar Luwuk. Menurut Rusmana (1993), dan dibagi menjadi tiga tipe utama bentang alam: pegunungan, perbukitan, dan dataran rendah. Pegunungan mendominasi bagian tengah dan merupakan topografi tertinggi. Di antara pegunungan dan dataran rendah, terdapat perbukitan dengan ketinggian 50 hingga 700 meter di atas permukaan laut. Dalam konteks stratigrafi, satuan-satuan karbonat miosen memegang peranan penting karena berkaitan langsung dengan perkembangan batuan reservoir di wilayah ini. Stratigrafi regional daerah penelitian berdasarkan dalam peta geologi lembar luwuk (Rusmana, 1993). Stratigrafi daerah penelitian tersusun atas beberapa formasi batuan diurutkan dari muda ke tua yang terdapat dalam tabel berikut. Berdasarkan Tabel 2.1, stratigrafi batuan di daerah penelitian dan sekitarnya. (Rusma, 1993). Umur Batuan Jenis Batuan Satuan Litologi Holosen (10 Ribu Tahun Lalu) Alluvi um Qa Pasir, kerikil, dan lumpur Tmpk Konglomer at,batupasir dan napal Tersier (15 Juta Tahun lalu) Forma si Kinto m Tersier (15 Juta Tahun lalu) Forma si Bangk a Tmpb Konglomer at, batupasir, batulempun g dan lensa batugampin g Tmpl Forma si Lonsio Tersier (15 Juta Tahun lalu) Kuarter (26 Juta Tahun Lalu) Terum bu Koral Terang kat Ql Tuf batuapung, batupasir tufan, breksi, konglomera t, dan lava bantal bersusun basal Batugampi ng, terumbu, dan sedikit napal Tersier (30 Juta Tahun lalu) Forma si Poh Tomp Napal, batugampin g, dan sedikit batupasir Tersier (30 Juta Forma si Tems Batugampi ng dan Umur Batuan Tahun lalu Jenis Batuan Salodi k Satuan Litologi sedikit batupasir Kapur (65 Juta Tahun Lalu Forma si Matan o Km Kalsulit, argilit, dengan sisipan/bint al rijang Kapur (65 Juta Tahun Lalu) Forma si Mafik Ku Gabro, basal, serpintinit, dan sedikit filit dan sekis Jura (100 Juta tahun Lalu) Forma si Nanak a Jn Batupasir, kuarsa, de gan sisispan batu bara dan konglomera t Jura (100 Juta tahun Lalu) Forma si Namb o Jnm Napal pasiran dan serpih mengandun g belemnit Trias (200 Juta Tahun Lalu) Forma si Meluh u TRJM Batusabak, filit, sekis, dan batupasir malih, Kelurusan Kelurasan (Lineament) adalah tampilan linear di permukaan bumi yang dapat dikenali dan dipetakan, biasanya terkait dengan fitur geologi seperti sesar atau retakan. Kelurusan dapat muncul dalam bentuk zona geser, lembah retakan, pemotongan singkapan, dan pola rekahan. Menururt (Gupta., 1991) meyimpulkan bahwa kelurusan merupakan bantuk dari (1) shear zone/faults, (2) rift valleys, (3) truncation of outcrops, (4) fold axial traces, (5) joint and fracture traces, (6) topographic, vegetation, soil tonal changes alignment Tabel 2.2 Nilai defalt pada masing-masing parameter pada PCI (Thannoum R.G 2013). Parameter Geomatika 2016 Nilai Input RADI (Filter Radius) GTHR (Gradien Thereshold) 5 75 LTHR (Length Threshold) FTHR (Line Fitting Error Threshold) 20 10 2 ATHR (Angular difference Threshold) DTHR (Linking Distance Threshold) 1 Fault Farcture Density Fault farcture density (FFD) adalah teknik analisis geospasial untuk memahami struktur geologi di suatu daerah. Metode ini menghitung kerapatan garis lineasi dari citra satelit untuk menemukan zona lemah atau daerah yang berpotensi mengalami deformasi. Data lapangan ini digunakan untuk memperbaiki hasil analisis dari citra satelit. Setelah lineasi diverifikasi, pola kerapatannya dihitung untuk mendapatkan gambaran akurat tentang distribusi dan intensitas struktur geologi di daerah tersebut. (Thannoum ; 2013). Metode fault fracture density (FFD) menunjukkan tingkat kerapatan sesar yang mencerminkan aktivitas tektonik suatu wilayah. Daerah dengan nilai fault fracture density (FFD) tinggi umumnya memiliki potensi guncangan gempa yang lebih besar, yang tercermin pada nilai PGA yang tinggi, sehingga fault fracture density (FFD) dapat digunakan sebagai parameter pendukung dalam interpretasi distribusi PGA dan penilaian bahaya gempa (Yahya, M. H. 2024). Percepatan Tanah Maksimum Percepatan maksimum tanah adalah ukuran penting yang menunjukkan seberapa cepat permukaan tanah bergerak saat gempa. Ada dua cara untuk mendapatkannya: melalui pengukuran langsung menggunakan alat accelerograph dan melalui estimasi dengan metode empiris. Percepatan tanah dapat diukur langsung dengan alat seperti seismograf atau accelerograph, tetapi ketersediaan alat ini terbatas. Oleh karena itu, metode empiris dibutuhkan untuk menentukan koefisien seismik dalam perencanaan bangunan tahan gempa. Percepatan tanah sering kali dihitung dari estimasi data historis gempa bumi. Ini membantu membuat peta seismik dan parameter desain yang lebih lengkap di wilayah rawan gempa, meskipun alat pengukur langsung belum tersedia sepenuhnya (Ibrahim, 2005). Indeks Seismisitas Indeks seismisitas adalah sebuah parameter kuantitatif yang digunakan untuk menggambarkan tingkat aktivitas kegempaan di suatu daerah. Indeks ini dihitung berdasarkan jumlah keseluruhan kejadian gempa bumi yang tercatat dalam periode satu tahun, dengan magnitudo yang melebihi batas minimum tertentu. Menurut Peter (1965) Indeks seismisitas dengan N (M ? 4) mengambarkan total kejadian gempa tahunan. (Suwandi dkk, 2017). Magnitudo dan Intensitas Gempa Bumi Magnitudo atau kekuatan gempa menunjukkan energi yang dilepaskan saat gempa bumi terjadi. Ada dua jenis utama: pertama, magnitude, yang diukur dari amplitudo gelombang seismik atau ukuran patahan sumber gempa; kedua, earthquake strength, yang menunjukkan total energi seismik yang dilepaskan. Kedua aspek ini membantu memahami intensitas dan dampak gempa, serta menjadi penting untuk analisis seismik dan perencanaan mitigasi bencana (Tim Geofisika UGM, 2013). Tabel 2.3. Konversi mangnitudo (Taruna dkk, 2021 & Irsyam, dkk 2010) Tipe Magnitudo Konversi Mb 0,08379 M+0,9783 MLv 1,0881M-0,3849 0,717 MD +1,003 ML 1,0917 M- 0,2795 1,0166 M-0,2207 0,6424 ML + 1,5595 Mw 0,7353 MLw+1,0722 1,1993 mb- 1,2261 0,6191 Ms +2,3965 Intensitas gempa bumi adalah ukuran yang menunjukkan tingkat kerusakan dan dampak gempa, terutama bagi manusia, bangunan, dan lingkungan. Penilaian ini dilakukan dengan melihat langsung di lokasi dan diukur menggunakan Skala (Modified Mercally Intensity) MMI. Berbeda dengan magnitudo yang menunjukkan kekuatan gempa secara keseluruhan, intensitas menunjukkan getaran yang dirasakan di permukaan tanah di titik tertentu. Nilai intensitas dan percepatan tanah maksimum dipengaruhi oleh karakteristik magnitudo gempa dan geologi di daerah yang terkena. Karena itu, intensitas dapat berbeda-beda antara daerah yang satu dengan yang lain (Sulistiawati, 2016). Tabel 2.4.. tingkat resiko gempa bumi berdasarkan nilai percepatan getaran tanah maksimum dan intensitas (Edwiza, 2008). No Tingkat Resiko PGA (gal) Intensitas MMI 1 Resiko sangat Kecil <25>600 >X Diagram Rose Diagram rose adalah gambar yang menunjukkan penyebaran arah dan frekuensi dari fenomena alam yang memiliki arah dan ukuran tertentu. Diagram ini menggunakan sudut dan orientasi untuk memperlihatkan berapa banyak kejadian yang terjadi di setiap arah. Diagram rose digunakan untuk perhitungan trend pola kelurusan agar dapat mengetahui seberapa banyak besaran data dan arah kelurusan yang muncul. Metode ini juga dilakukan dengan pengecekan kondisi lapangan terhadap indikasi kemunculan patahan atau sesar Tujuan dari diagram rose adalah menampilkan distribusi data dalam bentuk yang mudah dipahami dan dievaluasi. Diagram rose banyak digunakan untuk untuk mengambarkan fenomena fisik dengan sifat arah. Diagram ini umumnya menunjukan frekuensi data orientasi dua dimensi, seperti angin dan gelombang. Diagram rose juga banyak digunakan untuk menganlisis fitur permukaan memanjang dan sejajar yang dihasilkan oleh proses geomorfologi, tektonik, dan lainnya, yang biasanya disebut sebagai garis patahan (Nugroho dan Susanto, 2015). Metode Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Kabupaten Banggai, yang secara astronomis berada pada posisi 01°40’45’’ – 0°1’45’’LS dan 121°51’45’’ – 123°44’30’’ BT.. Gambar 3.1 memperlihatkan sekitarnya. lokasi penelitian dan Gambar 3.1 Peta Lokasi Penelitian dan Sekitarnya Alat dan bahan yang digunakan adalah: 1. Peta geologi lembar Banggai 2. Data Dem (Digital Elevation Model) pada lokasi penelitian 3. Data katalog gempa bumi pada rentang waktu 10 tahun dari tahun 2012-2022 dari BMKG dan USGS dengan magnitude >4. 4. Software yang digunakan yaitu, ArcGis 10.8, Global Mapper 18, PCi Geomatika, Microsoft Exel, Rockworks 17. Adapun tahapan penelitian dijabarkan secara ringkas sebagai berikut: 1. Tahapan Persiapan Dalam tahap pelaksaan ini yaitu mengumpulkan data, mangalisis literatur terkait, memperoleh data geologi yang relevan, termasuk peta sesar dan informasi seismik diwilayah tersebut, serta studi sebelumnya tentang delineasi kerapatan sesar menggunakn metode Fault Fracture density. 2. Tahapan Pengumpulan Data Ada beberapa tahap dalam mengumpulkan data salah satunya yaitu primer dan sekunder. Data primer meliputi pengamatan langsung kondisi struktur di lapangan berupa pengukuran Strike dan Dip. Untuk data sekunder meliputui data DEM STRM, peta geologi regional lembar Kabupaten Banggai, data katalog gempa bumi periode 10 tahun terakhir yaitu 2012-2022 dari katalog BMKG dan USGS dengan mangitudo >4. Kemudian mengumpulkan informasi mengenai kondisi geomorfologi dan struktur geologi daerah penlitian dan sekitarnya berdasarkan pada kondisi geologi regional dan hasil analisis citra.. 3. Pengolahan Data a. Analisis Kerapatan Sesar 1. Memasukan data DEM STRM daerah penelitian pada software ArcGis 10.8 2. DEM kemudian dikonversi dalam bentuk hilshade dengan dengan mengambil sudut azimuth penyinaran 0°, 45°, 90° dan 135° menggunakan software Global Mapper. 3. Melakukan penyimpanan citra DEM hasil hilshade dengan masing-masing sudut penyinaran. 4. Menganilisis lineasi citra DEM dengan Software PCI Geomatica menggunakan parameter LINE 5. Menyimpan file diagram rose dalam format jpg. 6. Membuat grid per 10x10 km dan menghitung nilai kerapatan persatuan luas pada software ArcGis 10.8. b. Analisis Percepatan Tanah 1. Mengklasifisikan data gempa bumi mulai dari tahun 2012 sampai dengan 2022. 2. Membuat peta distribusi sebaran episenter pada software ArcGis 10.8. 3. Menghitung metode deterministic dengan memilih satu sumber gempa yang memiliki satu sumber magnitude terbesar. 4. Membuat peta kontur percepatan tanah maksimum menggunakan software ArcGis 10.8. Interpretasi Data yang diperoleh dari hasil ekstraksi pada software geomatica dibuat peta kontur pola sebaran kelurusan untuk mendapatkan gembaran tentang kelurusan-kelurusan akibat struktur geologi pada lokasi penelitian. Selanjutnya melakukan perhitungan dari grid pola sebaran kelurusan yang dibuat pada software ArcGis untuk mendapatkan peta kerapatan sesar. Dalam mengintepretasi hasil pongolahan data pada penelitian yang dilakukan dapat mengetahui kerapatan sesar dengan nilai kerapatan yang dapat di kategorikan sebagai rendah, sedang dan tinggi. Serta percepatan tanah dapat mengetahui bagaimana tanah berperilaku saat terjadi gempa. Terdapat hubungan antara kerapatan sesar dan karakteristik percepatan tanah. Area dengan kerapatan sesar yang tinggi cendrung memiliki percepatan tanah yang lebih segnifikan selama aktifitas seismik. Adapun bagan alir penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 3.2 Gambar 3.2 Diagram Alir Pengolahan Data Hasil dan Pengolahan Data Penelitian dilakukan di Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah. Pola kelurusan sesar yang terdapat diwilayah Kabupaten Banggai diperoleh berdasarkan data DEM SRTM (Shuttle Radar Topography Mission) dengan resolusi 30 m. Untuk mendapatkan pola kelurusan dilakukan analisis menggunakan data DEM, sehingga relief kelurusan di wilayah tersebut terlihat jelas. analisis data DEM tersebut dilakukan dengan 4 variasi sudut penyinaran yaitu 0°, 45°, 90° dan 135° dengan altitude 45°.Seperti gambar 4.1 berikut. Gambar 4.1 Slope direction shading pada data DEM untuk setiap sudut penyinaran a (0°), b (45°), c (90°), dan d (135°) Pada gambar 4.1 tersebut terdapat relief wilayah Kabupaten Banggai dengan sudut penyinaran berbeda-beda yaitu (0°), b (45°), c (90°), dan d (135°) proses penyinaran tersebut bertujuan untuk memberikan kombinasi agar memperjelas kelurusan yang ada. Hasil dilakukan relief tersebut analisis selanjutnya kelurusan pada masing – masing sudut penyinaran. Penggunaan sudut penyinaran ini sangat krusial karena setiap sudut memberikan penekanan yang berbeda terhadap objek di permukaan. Gambar 4.2. Pola kelurusan pada masing- masing sudut penyinaran a (0°), b (45°), c (90°), dan d (135°). Dapat dilihat dari gambar 4.2 merupakan hasil dari pola kelurusan yang berbeda pada setiap sudut penyinaran. Berdasarkan data DEM pada setiap sudut penyinaran, kelurusan yang belum teridentifikasi oleh sudut penyinaran dapat teridentifikasi oleh sudut penyinaran lainnya. Sehingga jika kelurusan yang dihasilkan dari setiap sudut penyinaran digabungkan maka dapat memberikan hasil kelurusan secara keseluruhan. Dapat dilihat dari ke empat gambar sudut penyinaran tersebut. . pada sudut penyinaran 0° (cahaya datang dari arah Utara), kelurusan yang terdeteksi cenderung berarah Timur–Barat (E–W). Pada sudut penyinaran 45° (cahaya dari arah Timur Laut), kelurusan yang terdeteksi cenderung berarah Barat LautTenggara (NW–SE), sudut penyinaran 90° (cahaya dari arah Timur), kelurusan yang terdeteksi cenderung berarah Utara–Selatan (N–S). sudut penyinaran 135° (cahaya dari arah Tenggara), kelurusan yang terdeteksi lebih mempertegas struktur berarah Timur Laut–Barat Daya (NE–SW). Gambar 4.3 Diagram rose pada tiap sudut penyinaran a (0°), b (45°), c (90°), dan d (135°). Dapat dilihat pada gambar diatas pada sudut penyinaran c (90°) memiliki arah kelurusan sesar yang berarah utara selatan dengan rentang arah 0°–180°, pada sudut penyinaran a (0°), memiliki arah kelurusan sesar yang berararah timur – barat dengan rentang arah 90° –270°, pada sudut penyinaran d (135°), memiliki arah dominan timur laut-barat daya dengan rentang arah 45°225° dan untuk penyinaran yang terakhir b (45°), memiliki arah dominan barat laut- tenggara dengan rentang arah 135° –315°. Gambar 4.4 Hasil analisis kelurusan sesar total Berdasarkan Gambar 4.4 dapat dilihat peta gabungan sebaran kelurusan di wilayah Kabupaten Banggai dengan diagram rose yang menunjukan arah kelurusan. Peta tersebut bertujuan untuk mendapatkan kombinasi dari keempat kelurusan tersebut sehingga mendapatkan peta kelurusan gabungan yang lebih representif terhadap kondisi struktur geologi sesunguhnya pada daerah penelitian. Hasil peta tersebut dapat dibedakan dari masing-masing sudut penyinaran berdasarkan warna sesuai legenda azimuth 0° (biru), 45° (merah), 90° (kubing), dan 135° (melon) sehingga distribusi dan dominansi arah kelurusan dari setiap azimuth dapat diamati secara bersamaan. Di pojok kanan bawah peta juga ditampilkan diagram rose gabungan yang memperlihatkan arah kelurusan dominan secara keseluruhan. Gambar 4.5 Peta grid keluursan Kabupaten Banggai Pembagian wilayah penelitian ke dalam grid dilakukan dengan tujuan agar perhitungan kerapatan kelurusan dapat dilakukan secara merata di seluruh wilayah. Proses pembagian grid pada wilayah penelitian dilakukan untuk mengetahui secara detail nilai densitas kelurusan. Setiap grid akan dihitung total panjang kelurusan pada masing-masing grid, dan nilai tersebut kemudian dijadikan kontur kerapatan untuk menunjukkan tingkat kelurusan zona densitas. Pada densitas kelurusan dan perhitungan pola kerapatan garis lineasi pada citra satelit, sehingga dapat diketahui zona-zona lemah patahan. Gambar 4.6 Peta kerapatan sesar di wilayah Kabupaten Banggai Berdasarkan Gambar 4.6 sebaran kerapatan sesar yang dihasilkan mencerminkan kondisi dan pola struktur geologi yang berkembang di wilayah Kabupaten Banggai. Nilai kerapatan sesar yang didapatkan kemudian dikelompokan menjadi 3 kelas kerapatan, yaitu kerapatan rendah (0.53 – 1.0) yang berwarna hijau, kerapatan sedang (1.0 – 1.6) yang berwarna dan yang terakhir dengan kerapatan tinggi (1.6 – 2.1) yang berwarna merah. Wilayah dengan kerapatan sesar yang sangat tinggi ditunjukan oleh wilayah toili, simpangraya, bunta, kintom, nambo, luwuk utara, bualemo, balantak utara, matoh. Daerah dengan kerapatan sesar tinggi dipengaruhi oleh banyaknya sesar dan rekahan, kelurusan sungai dan lembah yang dominan. Percepatan Tanah Maksimum Analisis percepatan tanah maksimum dilakukan berdasarkan data kejadian gempa bumi selama 10 tahun di wilayah Kabupaten Banggai. Berdasarkan data kejadian gempa bumi, titik koordinat gempa, dan kedalaman gempa ? 40 km dengan magnitude ? 4, diperoleh peta sebaran gempa bumi diwilayah Kabupaten Banggai. Analisis tersebut menggunakan software Arcgis yang dapat dilihat pada gambar berikut. Wilayah ini termasuk daerah dengan seismisitas tinggi, dengan jumlah kejadian gempa bumi mencapai 286 kali kejadian. Gambar 4.7 Peta sebaran gempa bumi Kabupaten Banggai tahun 2012-2022 Berdasarkan gambar peta di atas gempa bumi diwilayah Kabupaten Banggai tidak hanya terjadi didarat tapi juga dilaut. Dapat dilihat bahwa wilayah Kabupaten Banggai bagian utara, timur dan selatan tepatnya berada di Kecamatan Bualemo, Kecamatan Balantak Utara, Kecamatan Balantak, Kecamatan Kecamatan Mantoh, Balantak Kecamatan Selatan, Lamala, Kecamatan Masama, dan Kecamatan Luwuk Timur, memiliki tingkat seismisitas cukup tinggi dibandingkan dengan wilayah Kabupaten Banggai lainnya. Kondisi ini disebabkan oleh keberadaan sesar aktif di wilayah tersebut. Gambar 4.8 Peta percepatan tanah maksimum Kabupaten Banggai dan sekitarnya Pada Gambar 4.8 menunjukan distribusi nilai (PGA) di Kabupaten Banggai menunjukkan pola gradasi warna dari hijau tua (nilai rendah, 4,30) di wilayah timur hingga merahoranye (nilai tinggi, 4,98) di wilayah selatanbarat daya. Pola ini mencerminkan gradasi bahaya seismik yang meningkat dari timur ke barat dan dari utara ke selatan. Semakin ke selatan dan barat daya, nilai PGA semakin naik akibat kedekatan dengan aktivitas sumber gempa utama. Semakin besar energi yang dilepas semakin kuat guncangan yang terjadi, karena energi dapat dilepaskan dari pusat gempa akibat akumulasi tegangan yang melampaui ambang batas, kemudian melepaskan diri sebagai gelombang gempa bumi. perambatan Hubungan FFD dan PGA Pada Lokasi Penelitian Pada peta FFD menggunakan data gempa Kabupaten Banggai, yaitu hanya mencakup episenter gempa yang berada dengan batas administratif Kabupaten Banggai. Data ini kemudian diolah bersama dengan kelurusan morfologi dari DEM untuk menghasilkan nilai kerapatan rekahan per area. Sedangkan untuk PGA menggunakan data seismisitas regional yang jauh lebih luas, mencakup seluruh episenter gempa pada wilayah yang berdekatan dengan wilayah Kabupaten Banggai, seperti yang terlihat pada peta sebaran episenter. Peta PGA merupakan hasil pengolahan dari data seismisitas kegempaan berupa penyebaran episenter gempa. PGA di Kabupaten Banggai tidak hanya dipengaruhi oleh gempa lokal, tetapi juga oleh gempa berada di wilayah yang tampak pada peta episenter. Gempa tersebut yaitu pada bagian barat Palu Donggala, M (5,0–7,0) berkontribusi pada nilai PGA di Kabupaten Banggai, tetapi kontribusinya kecil karena jaraknya sangat jauh (>300 km). Sebaliknya, episenter yang padat di Banggai Kepulauan dan sekitarnya tampak sebagai titik-titik hijau dan kuning padat di timur peta episenter memberikan kontribusi lebih langsung, khususnya pada kecamatan-kecamatan di bagian timur Kabupaten Banggai. Faktor terbesar yang menentukan tingginya nilai PGA di selatan (Toili Barat) adalah kedekatan dengan sesar batui yang aktif, juga menjadi sumber gempa yang paling dekat dan paling besar energinya untuk wilayah tersebut. Tingginya FFD tinggi di semenanjung timur mencerminkan intensitas deformasi tektonik jangka panjang dari sistem Sesar Balantak yang melintas di sana. Nilai tingkat kerapatan kelurusan menggambarkan zona lemah pada batuan yang terbentuk akibat aktivitas tektonik regional. Namun tingginya nilai FFD tidak cukup untuk menghasilkan bahaya seismik tinggi tanpa adanya sumber gempa aktif yang cukup kuat dan dekat. Kesimpulan Pola sebaran sesar menunjukan arah dominan kelurusan utara – selatan, arah dominan ini dipengaruhi oleh sesar aktif yang ada di wilayah Kecamatan Balantak. Pada analisis kerapatan sesar mendapatkan 3 kelas kerapatan, yaitu kerapatan rendah (0.53 – 1.0) yang berwarna hijau, kerapatan sedang (1.0 – 1.6) yang berwarna kuning dan yang terakhir dengan kerapatan tinggi (1.6 – 2.1) yang berwarna merah. Hasil analisis percepatan tanah maksimum (PGA) di Kabupaten Banggai menunjukkan bahwa nilai PGA tertinggi berkisar antara 190–210 Gal berada di bagian timur kabupaten meliputi Kecamatan Luwuk Timur, Lamala, Matoh, Balantak Selatan, Balantak, Balantak Utara, dan Bualemo yang dipengaruhi oleh keberadaan sesar aktif, nilai FFD yang tinggi, serta kelurusan yang rapat. Peta kerapatan sesar (FFD) dan peta percepatan tanah maksimum (PGA) sama-sama menunjukkan nilai tinggi pada wilayah yang sama. Hal ini disebabkan karena kerapatan kelurusan yang tinggi di wilayah tersebut mencerminkan keberadaan jalur-jalur sesar aktif. Semakin rfapat sesar aktif di suatu wilayah, maka semakin sering dan semakin kuat gema yang terjadi, yang pada akhirnya menghasilkan nilai PGA yang lebih tinggi di wilayah tersebut. Saran 1. Untuk penelitian selanjutnya disarankan melakukan pembaruan data gempa secara berkala dengan periode waktu yang lebih panjang agar indeks seismisitas dan distribusi PGA menjadi reprenstif terhadap kondisi kegempaan actual. 2. Untuk analisis PGA sebaiknya dikombinasikan dengan data kondisi tanah lokal, litologi, dan ketebalan sedimen untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat dalam menggambarkan respons tanah terhadap guncangan gempa. 3. Disarankan untuk wilayah yang memiliki nilai kerapatan sesar tinggi serta percepatan tanah maksimum yang besar untuk memperhatikan perencanaan pembangunan. Karena apabila terjadi gempa bumi dengan magnitudo cukup besar, daerah tersebut berpotensi mengalami pergerakan tanah yang signifikan serta tingkat kerusakan bangunan yang lebih tinggi. Daftar Pustaka Awaluddin, A. 2011. Penentuan Waktu Berakhirnya Gempa Susulan untuk Gempa Bumi Biak 16 Juni 2010. Program Studi Fisika, Teknologi . Fakultas Sains dan Universitas Syarif Hidayatullah:Jakarta. Bessi, A. M., Sianturi, H. L., & Bernandus, B. (2018). Pemetaan Nilai Percepatan Tanah Maksimum Dengan Metode Deterministic Seismic Hazard Analysis Di Lokasi Pembangunan Observatorium Nasional Desa Bitobe Kecamatan Amfoang Tengah Kabupaten Kupang. Jurnal Fisika: Fisika Sains dan Aplikasinya, 3(1), 49-53. Edwiza. (2008). Analisis Terhadap Intensitas dan Pecepatan Tanah Maksimum Gempa Sumbar. Jurnal Geofisika, Vol. 1, No. 29, hal, 73-76 Eraku, S. S., & Permana, A. P. (2020). Erosion Hazard Analysis In The Limboto Lake Catchement Area, Gorontalo Province, Indonesia. News of National Academy of Sciences of the Republic of Kazakhstan, 3(441), 110–116. https://doi.org/10.32014/2020.2518- 170X.61. Gupta, R. P. (1991) “Remote Sensing Geology”, Berlin, Heidelberg: Springer-Verlag. Habriansyah. Dkk. 2021. Studi Penentuan Percepatan (Acceleration) Tanah Daerah Ampana, Balikpapapan, Bone, Bulukumba, Bau-Bau Akibat Gempa bumi Donggala28 September 2018.Jurnal Geosains Kutai Basin. Vol 4 (1), p1-10, EISSN 2615-5176.Geofisika UNMUL Hariani. FMIPA (2018). Karakteristik Tektonik Dan Periode Ulang Gempa Bumi Pada Sesar Matano Sulawesi Selatan. In Skripsi. Makasar: Fakultas Sains dan Teknologi UIN Alauddin Makasar. Irsyam, M., Sengara, W., Aldiamar, F., Widiyantoro, S., Triyoso, W. (2010). Ringkasan Hasil Sudi Tim Revisi Peta Gempa Indonesia 2010. Bandung:Tim Revisi Peta Gempa Indonesia. Jayadi, H.,Analisis Penanggulangan Seismotektonik Daerah Untuk Rawan Bencana Gempa Bumi. Jurnal Fisika dan Terapannya, 3, 110–116, 2016. Kusuma, B. D., Awaluddin, M., dan Yuwono, B. D. (2017). Survey Deformasi Kalingarang dengan Metode Pengamatan GPS Tahun 2016. Lira, N. 2017. Analisis Parameter Seismik Gempabumi Wilayah Lengan Timur Sulawesi dengan Empiris.Makassar: Makassar. Uin Metode Alauddin Liu at all, 2016. Image Processing and GIS For Remote Sensing. John Wiley & Sons, Ltd. Marliyani, G. I., Arrowsmith, J. R., & Whipple, K. X. (2016). Characterization of slow slip rate faults in humid areas: Cimandiri fault zone, Indonesia. Journal of Geophysical Research: Earth Surface, 121(12), 22872308. https://doi.org/10.1002/2016JF003846. Naryanto, H. S. (2017). POTENSI GEMPA DAN TSUNAMI DI KABUPATEN BANGGAI LAUT, PROVINSI SULAWESI TENGAH. Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana, 12(2). Nugroho, U.C dan Susanto. 2015. Ekstraksi Kelurusan (Lineament) Secara Otomatis Menggunakan Data DEM SRTM Studi Kasus: Pulau Bangka. Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan XX. 775-780. Nugroho, U., Tjahjaningsih, A., 2016. Lineament Density Information Extraction Using DEM SRTM Data to Predict The Mineral Potensial Zones. International Journal of remote sensing and Earth Sciences, vol.13,pp.67-74. Putra, D. B. (2014) Hubungan Persebaran Episenter Gempa Dangkal Dan KelurusanBerdasarkan Digital Elevation Model Di Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.Skripsi. Fakultas Teknik. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Rusmana, E., Koswara, A., dan Simanjuntak, T.O., 1993. Peta Geologi Lembar Luwuk 215-231 Skala 1:250.000. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung. Sarsito, D. A., 2010. “Pemodelan geometric dan kinematik kawasan Sulawesi dan Kalimantan bagian timur berdasarkan data GNSS-GPS dan gaya berat global” Disertasi Doktor ITB. S. Seongkono, “Te Kopia geothermal system (New Zealand) – the relationship between its structure and extent,” Geothermics, vol. 28, no. 6, pp. 767-784, 1999, doi:10.1016/S0375-6505(99)00042-5. Sipayung, R., Susanto, E., & Haryanta.2019. Identifikasi Sumber Patahan Gempabumi Banggai 12 April 2019 Mw 6,9 Menggunakan Data Gempabumi Susulan, Seminar Nasional Fisika 2019 Program Pascasarjana Universitas Makassar. Suryani, Thesa Adi. Negeri (2007) Analisis Komparatif Sismotektonik Nilai Parameter Dari Hubungan Magnitudo-Kumulatif Dan Nonkumulatif Untuk Jawa Timur Menggunakan Metode Kuadrat Terkecil Dan Metode Maksimum Likelihood Dari Data BMG dan USGSTahun 1973 -2003.Skripsi. Semarang. FMIPA Universitas Negeri Semarang. Taruna, R. M & Pratiwi, A. (2021). Konversi Empiris Summary Magnitude, Local Magnitude, Body-Wave Magnitude, Surface Magnitude Magnitude, dan Menggunakan Moment Data Gempabumi 1922-2020 di Nusa Tenggara Barat. Jurnal Sain Lingkungan. 7 (1): 1-12. Teknologi & Thannoum, R. G., 2013, Automatic Extraction and Geospatial Analysis of Lineaments and their Tectonic Significance in some areas of Northern Iraq using Remote Sensing Techniques and GIS, International Journal Of Enhanced Research In Science Tecnology & Enineering Bulletin, Vol.2. Tim Geofisika UGM. (2013). Parameter Gempa Bumi. Yogyakarta: UGM Watkinson, I. M., Hall, R., & Ferdian, F. (2011). Tectonic re-interpretation of the BanggaiSula Molucca Sea margin, Indonesia. Geological Society, London, Special Publications, 355(1), 203-224. Yahya, M. H. (2024). Analysis of Peak Ground Acceleration... Journal UNY. Zoback, M.D 2007. Reservoir geomachanics. Cambridge University Press, Cambridge.

Item Type: Thesis (Sarjana)
Subjects: Tadulako University - Divisions > Fakultas Matematika dan IPA > Teknik Geofisika
Q Science > Teknik Geofisika
Divisions: Fakultas Matematika dan IPA > Teknik Geofisika
Library of Congress Subject Areas > Q Science > Teknik Geofisika
Date Deposited: 03 Aug 2026 03:44
Last Modified: 03 Aug 2026 03:44
URI: https://repository.untad.ac.id/id/eprint/156956
Baca Full Text: Baca Sekarang

Actions (login required)

View Item
View Item