STABILITAS LERENG BERDASARKAN VARIASI KEMIRINGAN MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA PADA RUAS JALAN TAWAELI-TOBOLI KM 30 ± 518

NAJWA ALUWENI (2026) STABILITAS LERENG BERDASARKAN VARIASI KEMIRINGAN MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA PADA RUAS JALAN TAWAELI-TOBOLI KM 30 ± 518. Sarjana thesis, Universitas Tadulako.

Full text not available from this repository.

Abstract

Ruas Jalan Tawaeli–Toboli merupakan salah satu jalur transportasi utama di Provinsi Sulawesi Tengah yang
memiliki kondisi topografi berupa lereng dengan kemiringan relatif curam sehingga berpotensi mengalami
kelongsoran. Kondisi tersebut dapat mengganggu kelancaran transportasi serta membahayakan
keselamatan pengguna jalan. Salah satu faktor yang memengaruhi kestabilan lereng adalah geometri lereng,
khususnya kemiringan lereng dan penerapan lereng terasering. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
pengaruh variasi kemiringan dan jumlah tingkat terasering terhadap stabilitas lereng menggunakan metode
elemen hingga (Finite Element Method). Penelitian dilakukan melalui pengumpulan data primer berupa
pengujian laboratorium tanah, survei geolistrik resistivitas, serta pemodelan numerik menggunakan
perangkat lunak Rocscience RS2. Variasi pemodelan terdiri atas lereng dengan kemiringan 25°, 30°, dan
50°, serta lereng terasering dengan 2 tingkat, 3 tingkat, dan 4 tingkat. Analisis dilakukan pada kondisi
normal, hujan minimum, dan hujan maksimum menggunakan parameter tanah hasil pengujian
laboratorium. Kondisi hujan dimasukkan ke dalam model RS2 sebagai boundary condition berupa
intensitas infiltrasi pada permukaan lereng. Intensitas hujan dihitung dari data curah hujan dan digunakan
untuk mensimulasikan kondisi hujan minimum dan hujan maksimum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
perubahan geometri lereng memberikan pengaruh terhadap nilai Strength Reduction Factor (SRF) dan total
displacement. Pada kondisi normal, nilai SRF berturut-turut sebesar 1,21; 1,15; dan 0,66 untuk lereng
dengan kemiringan 25°, 30°, dan 50°, sedangkan model lereng terasering 4 tingkat, 3 tingkat, dan 2 tingkat
menghasilkan nilai SRF sebesar 1,50; 1,34; dan 1,47. Pada kondisi hujan minimum dan hujan maksimum,
model lereng terasering 4 tingkat tetap memberikan nilai SRF tertinggi, yaitu masing-masing sebesar 1,49
dan 1,47, dengan total displacement sebesar 0,50 m dan 0,60 m. Sementara itu, model lereng dengan
kemiringan 50° menghasilkan nilai SRF kurang dari 1 pada kondisi normal, sehingga dikategorikan tidak
stabil dan berpotensi mengalami kelongsoran. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa peningkatan
kemiringan lereng menyebabkan penurunan nilai SRF dan peningkatan deformasi lereng, sedangkan
penerapan terasering mampu meningkatkan kestabilan melalui distribusi tegangan yang lebih merata dan
pengurangan deformasi. Berdasarkan hasil analisis, model lereng terasering 4 tingkat merupakan geometri
yang memiliki kinerja terbaik diantara model yang dianalisis karena menghasilkan nilai SRF tertinggi dan
total displacement terendah pada seluruh kondisi analisis.
Kata Kunci: Stabilitas Lereng, Kemiringan, Terasering, Strenght Reduction Factor, Infiltrasi
Hujan,Metode elemen Hingga,RS2

Item Type: Thesis (Sarjana)
Subjects: Tadulako University - Divisions > Fakultas Teknik > Teknik Sipil
T Technology > Teknik Sipil
Divisions: Fakultas Teknik > Teknik Sipil
Library of Congress Subject Areas > T Technology > Teknik Sipil
Date Deposited: 31 Aug 2026 03:25
Last Modified: 31 Aug 2026 03:25
URI: https://repository.untad.ac.id/id/eprint/157825
Baca Full Text: Baca Sekarang

Actions (login required)

View Item
View Item