STATUS FAALI INDUK SAPI DONGGALA PADA KONDISI PETERNAKAN RAKYAT DI KECAMATAN TANAMBULAVA

SALMAN ALFARISI (2026) STATUS FAALI INDUK SAPI DONGGALA PADA KONDISI PETERNAKAN RAKYAT DI KECAMATAN TANAMBULAVA. Sarjana thesis, Universitas Tadulako.

Full text not available from this repository.

Abstract

Salman Alfarisi (O12121115) Status Faali Induk Sapi Donggala Pada Kondisi
Peternakan Rakyat Di Kecamatan Tanambulava (Mardiah Mangun dan Yohan
Rusiyantono, 2026)
Sapi Donggala adalah hewan ternak yang berasal dari Sulawesi Tengah
ditetapkan dalam keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor
666/kpts/sr.120/6/2014 tentang penetapan rumpun sapi Donggala. Yang dimana
hewan ternak tersebut memiliki kemampuan adaptasi cukup baik terhadap
lingkungan tropis. Status faali ternak seperti suhu tubuh, frekuensi pernapasan, dan
denyut nadi digunakan untuk mengetahui kondisi kesehatan dan kemampuan
adaptasi ternak terhadap lingkungan. Faktor seperti suhu lingkungan, pakan,
aktivitas ternak, dan kondisi tubuh dapat memengaruhi status faali sapi. Penelitian
dilakukan di peternakan rakyat Desa Sibalaya dan Desa Sibowi, Kecamatan
Tanambulava, Kabupaten Sigi selama kurang lebih satu bulan. Objek penelitian
adalah 15 ekor induk sapi Donggala yang dipilih secara purposive sampling
berdasarkan bobot badan diatas 200kg dan bobot badan dibawah 200kg. Data yang
diamati meliputi suhu tubuh, frekuensi pernapasan, dan denyut jantung.
Pengukuran dilakukan pada pagi, siang, dan sore hari menggunakan alat seperti
termometer, stetoskop, hand tally, dan stopwatch. Frekuensi denyut nadi diukur
menggunakan stetoskop, frekuensi pernapasan diamati melalui gerakan perut sapi,
sedangkan suhu tubuh diukur menggunakan termometer digital. Data yang
diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif dan ditampilkan dalam bentuk
rerata, standar deviasi, dan persentase untuk mengetahui kondisi status faali induk
sapi Donggala. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan status faali
antara sapi dengan bobot badan di atas 200 kg dan di bawah 200 kg. Perbedaan
tersebut terlihat pada frekuensi pernapasan, denyut nadi, dan suhu tubuh. Sapi
dengan bobot badan di bawah 200 kg memiliki frekuensi pernapasan lebih tinggi
pada siang dan sore hari karena pengaruh suhu lingkungan yang panas. Sementara
itu, sapi dengan bobot badan di atas 200 kg memiliki denyut nadi dan suhu tubuh
yang lebih tinggi akibat aktivitas metabolisme tubuh yang lebih besar.
Kata Kunci: Sapi Donggala, Denyut Nadi, Frekuensi Pernapasan, Suhu Tubuh,
Bobot Badan

Item Type: Thesis (Sarjana)
Subjects: Tadulako University - Divisions > Fakultas Peternakan dan Perikanan > Peternakan
S Agriculture > Peternakan
Divisions: Fakultas Peternakan dan Perikanan > Peternakan
Library of Congress Subject Areas > S Agriculture > Peternakan
Date Deposited: 16 Sep 2026 07:02
Last Modified: 16 Sep 2026 07:02
URI: https://repository.untad.ac.id/id/eprint/158343
Baca Full Text: Baca Sekarang

Actions (login required)

View Item
View Item