HUSAIN FITTA (2026) KUASA, TUBUH DAN KEHENINGAN : ETNOGRAFI PELECEHAN SEKSUAL DALAM RUANG AKADEMIK KOTA PALU. Sarjana thesis, Universitas Tadulako.
Full text not available from this repository.Abstract
ABSTRAK
Husain Fitta, B30121161, ?Kuasa, Tubuh, dan Keheningan: Etnografi Pelecehan Seksual
Dalam Ruang Akademik Kota Palu?, di bimbing oleh Ikhtiar Hatta pembimbing utama,
dan Citra Dewi pembimbing pendamping.
Pelecehan seksual di ruang akademik merupakan persoalan yang terus berulang dan
menunjukkan bahwa kampus belum sepenuhnya menjadi ruang aman bagi perempuan.
Secara ideal, perguruan tinggi sebagai ruang ilmu pengetahuan, etika, dan pembentukan
karakter seharusnya mampu menciptakan lingkungan yang bebas dari kekerasan dan
pelecehan. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa kasus pelecehan seksual masih
terus muncul, baik dalam bentuk verbal, fisik, maupun simbolik. Kondisi ini diperparah
oleh budaya diam yang sering dipilih oleh korban maupun saksi akibat rasa malu, takut,
khawatir disalahkan, dan ketimpangan relasi kuasa antara pelaku dan korban.Penelitian
ini membahas bagaimana relasi kuasa dalam ruang akademik membuka ruang bagi
terjadinya pelecehan seksual sekaligus membentuk budaya keheningan di sekitarnya.
Penelitian menggunakan pendekatan etnografi dengan fokus pada pengalaman subjektif
korban di ruang akademik Kota Palu. penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian ini tidak
dimaksudkan untuk menguji hipotesis atau menghasilkan generalisasi statistik, melainkan
untuk mengeksplorasi makna, persepsi, serta dinamika sosial-budaya yang
melatarbelakangi relasi kekuasaan dan bentuk-bentuk pelecehan seksual yang terjadi.
Informan dalam penelitian ini dipilih secara purposive berdasarkan pertimbangan
strategis untuk memastikan representasi pengalaman terkait maskulinitas, feminitas, dan
pelecehan seksual di ruang akademik
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelecehan seksual di ruang akademik tidak sematamata merupakan tindakan individual, tetapi berkaitan erat dengan relasi kuasa yang
bekerja secara tersirat melalui posisi dosen, senior, pejabat kampus, dan aktor yang
dianggap lebih berwenang. Relasi tersebut membuat mahasiswa cenderung diam,
menghindar, memaafkan, atau tidak melibatkan saksi sebagai bentuk perlindungan diri
dari rasa malu, gosip, stigma, dan dampak terhadap reputasi. Pelecehan seksual
ditemukan dalam bentuk verbal, tatapan dan komentar terhadap tubuh, hingga sentuhan
fisik yang melampaui batas. Pengalaman tersebut juga menunjukkan adanya respons
tubuh korban, seperti gemetar ketika mengalami tindakan seksual yang tidak diinginkan.
Dengan demikian, keheningan korban tidak dapat dipahami semata-mata sebagai
ketidakmauan untuk berbicara, tetapi sebagai strategi menghadapi situasi yang
menempatkan korban dalam posisi rentan. Penelitian ini berargumen bahwa pelecehan
seksual di ruang akademik merupakan praktik kuasa yang bekerja melalui tubuh, relasi
sosial, dan keheningan, sehingga memperkuat ketimpangan serta memengaruhi
pengalaman sosial dan akademik korban.
Kata kunci: Pelecehan seksual, relasi kuasa, tubuh, keheningan, etnografi, ruang
akademik.
| Item Type: | Thesis (Sarjana) |
|---|---|
| Subjects: | Tadulako University - Divisions > Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Antropologi H Ilmu Sosial > Antropologi |
| Divisions: | Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Antropologi Library of Congress Subject Areas > H Ilmu Sosial > Antropologi |
| Date Deposited: | 14 Oct 2026 06:59 |
| Last Modified: | 14 Oct 2026 06:59 |
| URI: | https://repository.untad.ac.id/id/eprint/158741 |
| Baca Full Text: | Baca Sekarang |

