I NYOMAN OLDI SUPARMAN (2026) HAK WARIS LAKI LAKI NYENTANA MENURUT HUKUM ADAT BALI (STUDI KECAMATAN BALINGGI KABUPATEN PARIGI MOUTONG). Sarjana thesis, Universitas Tadulako.
Full text not available from this repository.Abstract
Hak waris merupakan salah satu aspek penting dalam hukum perdata yang
mengatur mengenai peralihan harta kekayaan dari pewaris kepada ahli warisnya.
Pada umumnya, sistem pewarisan di Indonesia diatur melalui hukum perdata
barat, hukum Islam, maupun hukum adat yang masing-masing memiliki
karakteristik tersendiri. Hukum adat, sebagai salah satu sumber hukum yang hidup
di masyarakat, memberikan corak khas dalam pengaturan hak waris sesuai dengan
nilai, norma, dan tradisi setempat.Dalam konteks hukum adat Bali, terdapat sistem
perkawinan yang dikenal dengan istilah nyentana, yaitu perkawinan di mana
pihak perempuan meminang laki-laki. Perkawinan ini membawa konsekuensi
hukum yang unik, karena laki-laki yang kawin dengan sistem nyentana harus
memutuskan hubungan dengan keluarga asalnya dan kehilangan hak-hak di
keluarga tersebut, termasuk hak waris.Berdasarkan latar belakang tersebut penulis
menarik rumusan masalah sebagai berikut bagaimana hak waris laki laki nyentana
menurut hukum adat Bali di Kecamatan Balinggi Kabupaten Parigi Moutong?
Dan Bagaimana pembagian warisan laki laki nyentana menurut hukum adat Bali
di kecamatan Balinggi kabupaten Parigi Moutong?, penelitian ini memiliki tujuan
yaitu untuk mengetahui hak waris seseorang laki laki yang melakukan perkawinan
nyentana dan mengetahui tatacara pembagian hak waris bagi laki laki yang
melakukan perkawinan nyentana, Penelitian ini menggunakan metode yuridis
empiris dengan menganalisis penerapan hukum adat Bali dalam praktik terhadap
individu, kelompok, dan lembaga adat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lakilaki yang melakukan perkawinan nyentana tetap memperoleh hak waris dalam
keluarga perempuan, namun hak tersebut tidak penuh. Pembagian warisan
dilakukan secara sama rata, yaitu masing-masing 25% untuk suami, istri, ayah
dari pihak perempuan, dan ibu dari pihak perempuan.Kesimpulan dari penelitian
ini yaitu, laki-laki dalam perkawinan nyentana masih memiliki hak waris di
keluarga perempuan, tetapi dalam bentuk terbatas. Pembagian warisan dalam
keluarga nyentana mencerminkan prinsip keadilan adat Bali yang menekankan
keseimbangan antara pihak laki-laki dan pihak perempuan, sekaligus menjaga
harmoni dalam sistem kekeluargaan adat.
Kata Kunci: Hak Waris, Laki Laki Nyentana, Hukum Adat Bali.
| Item Type: | Thesis (Sarjana) |
|---|---|
| Subjects: | Tadulako University - Divisions > Fakultas Hukum > Ilmu Hukum Ilmu Hukum |
| Divisions: | Fakultas Hukum > Ilmu Hukum Library of Congress Subject Areas > Ilmu Hukum |
| Date Deposited: | 26 Oct 2026 01:15 |
| Last Modified: | 26 Oct 2026 01:15 |
| URI: | https://repository.untad.ac.id/id/eprint/158880 |
| Baca Full Text: | Baca Sekarang |

