NURHIDAYAH (2026) PEMAKNAAN UANG PANAI’ BAGI ETNIS BUGIS DI DESA KAMPUNG BARU KECAMATAN BALAESANG KABUPATEN DONGGALA. Sarjana thesis, Universitas Tadulako.
Full text not available from this repository.Abstract
ABSTRAK
Nurhidayah B30121112 dengan judul skripsi“Pemaknaan Uang Panai Bagi Etnis Bugis di Desa Kampung Baru Kecamatan Balaesang Kabupaten Donggala”. Di bimbing oleh ibu Resmiwati sebagai pembimbing utama, dan ibu Yulianti Bakari sebagai pembimbing pendamping.
Tradisi Uang Panai’ atau dui menre’ merupakan sejumlah uang yang diberikan oleh pihak laki-laki kepada keluarga perempuan sebagai syarat pernikahan adat Bugis. Bagi masyarakat Bugis, tradisi ini tidak hanya bermakna ekonomi, tetapi juga mengandung nilai siri’ (harga diri), martabat, serta simbol tanggung jawab dan kesungguhan laki-laki terhadap perempuan yang dilamar. Penelitian ini bertujuan (1) untuk mengetahui bagaimana masyarakat etnis Bugis di Desa Kampung Baru Memaknai Uang Panai’. (2) untuk mengetahui bagaimana dampak Uang Panai’ dalam tatanan sosial masyarakat etnis Bugis di Desa Kampung Baru.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini metode penelitian kualitatif berdasarkan pendekatan deksriptif. Teknik pengumpulan data melalui studi Pustaka, penelitian lapangan, observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Teknik analisis data melalui tahap penyunting data, kategorisasi data, penafsiran makna data, dan penarikan Kesimpulan. Informan di tetapkan melalui metode (purposive) sebanyak 7 orang informan yang dianggap mampu untuk menjelaskan mengenai pemaknaan dalam uang panai’.
Berdasarkan hasil penelitian, masyarakat Bugis di Desa Kampung Baru memaknai Uang Panai’ sebagai simbol penghormatan, tanggung jawab, dan kesungguhan seorang laki-laki terhadap calon istri serta keluarganya. Pemberian Uang Panai’ dianggap sebagai bentuk menjaga siri’ (harga diri) dan kehormatan kedua belah pihak. Selain itu, Uang Panai’ juga berfungsi sebagai sarana komunikasi simbolik antara dua keluarga dalam proses lamaran, yang menandai keseriusan dan kesiapan pihak laki-laki untuk membangun rumah tangga. Besar kecilnya Uang Panai’ ditentukan melalui musyawarah berdasarkan kemampuan, status sosial, dan pendidikan calon mempelai perempuan, sehingga tidak sekadar soal nominal, tetapi juga bermakna penghargaan terhadap perempuan dan keluarganya. Sedangkan rumusan masalah kedua menjelaskan dari sisi tatanan sosial, Uang Panai’ memiliki dua dampak utama. Dampak negatifnya yaitu munculnya beban ekonomi, kecemburuan sosial, serta kasus silariang (kawin lari) ketika pihak laki-laki tidak sanggup memenuhi permintaan keluarga perempuan. Hal ini juga dapat memperlebar kesenjangan sosial antara keluarga kaya dan miskin. Namun, di sisi positif, tradisi Uang Panai’ justru memotivasi laki-laki untuk bekerja keras dan memiliki etos kerja tinggi demi menjaga siri’ dan membuktikan kesungguhannya. Selain itu, tradisi ini memperkuat solidaritas, mempererat hubungan kekerabatan, serta menjadi sarana pelestarian identitas budaya Bugis di tanah perantauan. Dengan demikian, Uang Panai’ berfungsi tidak hanya sebagai tuntutan adat, tetapi juga sebagai simbol sosial dan kultural yang memperkokoh struktur sosial masyarakat Bugis di Desa Kampung Baru.
Kata Kunci: Uang Panai’, Bugis, Simbol dan Makna, Siri’, Tatanan Sosial
| Item Type: | Thesis (Sarjana) |
|---|---|
| Subjects: | Tadulako University - Divisions > Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Antropologi H Ilmu Sosial > Antropologi |
| Divisions: | Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Antropologi Library of Congress Subject Areas > H Ilmu Sosial > Antropologi |
| Date Deposited: | 13 Feb 2026 07:21 |
| Last Modified: | 13 Feb 2026 07:21 |
| URI: | https://repository.untad.ac.id/id/eprint/153486 |
| Baca Full Text: | Baca Sekarang |

