Komunikasi Antarbudaya Masyarakat Suku Pedalaman Tau Taa Wana, Kabupaten Morowali Utara

LIDYA WATI (2026) Komunikasi Antarbudaya Masyarakat Suku Pedalaman Tau Taa Wana, Kabupaten Morowali Utara. Sarjana thesis, Universitas Tadulako.

Full text not available from this repository.

Abstract

LIDYA WATI B 501 19 141 “Komunikasi Antarbudaya Masyarakat Suku Pedalaman Tau Taa Wana Kabupaten Morowali Utara” Program Studi Ilmu Komunikasi Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tadulako di bawah bimbingan Sitti Murni Kaddi dan Giska Mala Rahmarini.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komunikasi antarbudaya dan hambatan komunikasi antarbudaya yang terjadi antara Suku Taa Wana dengan masyarakat bukan Suku Taa Wana (Mori, Bugis, dan Jawa) yang ada di Desa Tambayoli, Kecamatan Soyo Jaya, Kabupaten Morowali Utara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif melalui teknik wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Wawancara dilakukan terhadap lima informan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan melalui tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Landasan teori yang digunakan mengacu pada Alo Liliweri (2011) mengenai faktor personal dalam komunikasi antarbudaya, serta Larry A. Barna (1972 dalam Liliweri 2011) mengenai hambatan komunikasi antarbudaya, meliputi perbedaan bahasa, kesalahpahaman nonverbal, serta prasangka dan stereotip.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi antarbudaya di Desa Tambayoli dipengaruhi oleh faktor personal seperti konsep diri, identitas budaya, motivasi, empati, pengetahuan budaya, kepercayaan diri, serta nilai-nilai budaya masing-masing kelompok. Hambatan komunikasi muncul akibat perbedaan bahasa, di mana masyarakat Suku Taa Wana lebih dominan menggunakan bahasa Taa, sementara masyarakat luar menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa daerah lain, sehingga pesan tidak selalu dipahami secara utuh. Selain itu, kesalahpahaman terhadap pesan nonverbal yang berakar pada nilai budaya Suku Taa Wana, seperti sikap diam dan menjaga jarak sebagai bentuk kesopanan, kebiasaan membawa parang sebagai simbol kerja, serta gaya komunikasi yang bertahap, kerap disalahartikan dan berkembang menjadi prasangka serta stereotip negatif.
Meskipun demikian, komunikasi antarbudaya tetap berlangsung melalui proses adaptasi dan upaya saling memahami, di mana masyarakat luar lebih banyak menyesuaikan diri dalam interaksi sosial, sementara masyarakat Suku Taa Wana lebih menyesuaikan diri dalam konteks administratif dan sistem sosial formal. Keberhasilan komunikasi antarbudaya memerlukan kesadaran budaya, empati, dan sikap saling menghargai terhadap perbedaan nilai budaya.

Kata Kunci: Komunikasi Antarbudaya, Faktor Personal, Hambatan Komunikasi, Suku Taa Wana, Desa Tambayoli.

Item Type: Thesis (Sarjana)
Subjects: Tadulako University - Divisions > Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Ilmu Komunikasi
H Ilmu Sosial > Ilmu Komunikasi
Divisions: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Ilmu Komunikasi
Library of Congress Subject Areas > H Ilmu Sosial > Ilmu Komunikasi
Date Deposited: 09 Mar 2026 05:07
Last Modified: 09 Mar 2026 05:07
URI: https://repository.untad.ac.id/id/eprint/153777
Baca Full Text: Baca Sekarang

Actions (login required)

View Item
View Item